NTB
Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang, Ini Komentar Pendiri Aliansi Supporter NTB
Penulis: Jimmy Sucipto | Editor: Sirtupillaili
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Jimmy Sucipto
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Tragedi sepakbola yang menewaskan 129 nyawa di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur mengundang berbagai simpati di lapisan pecinta sepakbola Lombok, NTB.
Diantaranya pendiri Aliansi Supporter Nusa Tenggara Barat (NTB) Regent, yang pernah mempersatukan supporter di NTB, tahun 2017 lalu.
Regent menyampaikan belasungkawa dan memberikan beberapa kritikan, saat dihubungi TribunLombok melalui Whats’App, Minggu (2/10/2022).
Menurut Regent, sepakbola Indonesia masih erat dengan kalimat ‘bobrok’.
Kebobrokan tersebut kata Regent bersumber dari berbagai pihak yang menyebabkan tragedi Kanjuruhan, Sabtu (1/9/2022) malam.
Baca juga: Kapasitas Stadion Kanjuruhan 38.000 Penonton, Tiket yang Dijual 42.000: Over Kapasitas!
Dalam penjelasannya, PT LIB (PT Liga Indonesia Baru), PSSI, Indosiar (Pemegang hak Siar Liga 1 dan Liga 2) sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk tragedi ini.
Pasalnya Regent mempertanyakan apakah benar PSSI & PT LIB menjalankan regulasi yang sesuai protokol.
Karena diketahui satu diantaranya yang sangat fatal dan melanggar protokol yakni penggunaan gas air mata.
Pada peraturan FIFA, tidak boleh adanya penggunaan Gas Air Mata.
Sayangnya, aparat yang bertugas (Polda Jatim dan Jajaran) saat itu mempergunakan gas air mata.
Kapolda Jatim mengatakan, penggunaan gas air mata sesuai dengan protokol.
Hal lain yang disoroti oleh Regent yakni jam tayang sepakbola yang cukup larut malam.
Regent beranggapan, Indosiar sebagai pemegang hak siar semata-mata hanya mengejar rating, tanpa memikirkan dampak negatif.
Selanjutnya Regent membidik komentator sepakbola Indonesia, yang di saat on-air hanya memberikan wawasan asal muasal pemain.
“Kalau laga itu berlebel Big Match, sepakbola Indonesia tidak butuh komentator yang hanya tau identitas pemain seperti pegawai dukcapil. Tapi yang bisa mengedukasi penonton tentang sepakbola itu yang lebih utama,” terang Regent.
Begitupun supporter, Regent menambahkan supporter yang hadir mendukung timnya harus bersikap dewasa.
Dan bagi Regent, supporter yang dewasa adalah supporter yang paham akan rivalitas 90 menit, dan berkawan di luar lapangan.
Atas kejadian di atas dan berbagai kritikan yang dilempar oleh Regent, ia menyampaikan beberapa solusi.
Kompetisi harus dihentikan sementara, dan melakukan evaluasi menyeluruh.
Baik dari pihak PSSI, PT LIB, Keamanan, Pemegang Hak Siar (Indosiar), Panitia Penyelenggara (Panpel) dan Supporter.
Ia juga menutup pembicaraan dengan tetap memberi dukungan penuh terhadap persepakbolaan Indonesia yang lebih maju.
“Walaupun bobrok, saya tetap menyukai sepakbola Indonesia, karena ball-ballan lokal sensasinya sangat berbeda dirasa,” tandas Pendiri Aliansi Supporter NTB, menutup pembicaraan.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Kericuhan-seusai-laga-Arema-Vs-Persebaya-Sabtu-1102022-22135135311.jpg)