NTB
Berupaya Lestarikan Tenun Maringkik, WCS Beri Pendampingan pada Penenun Tradisional
Penulis: Ahmad Wawan Sugandika | Editor: Maria Sorenada Garudea Prabawati
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Desa pulau Maringkik, yang ada di Kecamatan Keruak merupakan satu-satunya desa pulau nelayan di Kabupaten Lombok Timur.
Pulau ini juga tercatat sebagai pulau nelayan terpadat kedua di dunia, setelah Pulau Bungin di Sumbawa.
Pulau Maringkik juga telah menjelma menjadi Desa Wisata dengan dibentuknya Pokdarwis pada bulan Maret 2022 lalu.
Sebagai desa wisata, pulau Maringkik terus berbenah dari segala aspek termasuk produk kain tenun tradisional.
Pengembangan Tenun Pulau Maringkik ini disampaikan Kohar Unamul dari WCS saat diberikan kesempatan oleh ketua Dharma wanita persatuan Kabupaten Lombok Timur Nurhidayati Taofik pada pertemuan di gedung wanita, Kamis (8/9/2022).
Baca juga: Nama Bayi Kembar Empat di NTB Diambil dari Asmaul Husna
"Sekarang ini Tenun Maringkik sedang dalam proses pendaftaran label Indikasi Geografis (IG) yang di fasilitasi Universitas Mataram (Unram) dan Pemerintah Kecamatan Keruak serta Pemerintah Desa Pulau Maringkik," katanya.
Lebih lanjut Subhan menjelaskan, IG merupakan bagian dari Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) yang telah diajukan ke Kementerian Hukum dan HAM RI.
IG ini juga menunjukkan kekhasan, kualitas, reputasi dan karakteristik suatu produk yang dimiliki secara komunal, dalam hal ini adalah kelompok penenun kain tradisional "Bunga Maringkik".
"Tenun tradisional Pulau Maringkik memiliki banyak motifnya antara lain motif Bunga Para," jelasnya.
Baca juga: Demo Mahasiswa Tolak Kenaikan Harga BBM di Sumbawa Diwarnai Ricuh
Selain itu, mutu dan kualitas tenun Maringkik khas dan memiliki karakteristik serta reputasi.
Karena itu diperlukan perhatian dari berbagai pihak untuk melestarikan dan mengembangkannya.
Oleh karena itu Wildlife Concervation Society (WCS) hadir untuk memberikan pendampingan terhadap kelompok penenun tradisional guna membantu mengembangkan dan mengkreasikan dalam bentuk pakaian/busana, baik formal maupun non formal.
Hasilnya ditampilkan saat lomba fashion show sebagai rangkaian HUT ke-77 Kemerdekaan RI di lapangan Tugu Selong beberapa waktu lalu.
Tidak hanya pakaian, sisa potongan kain tenun dimanfaatkan pula sebagai pelengkap gaya berpakain seperti tas, dompet dan aksesoris lainnya. Potensi ini juga dapat mendorong pengembangn sektor pariwisata di kawasan tersebut.
Baca juga: Kasta NTB Geruduk Kejagung RI, Minta Kejelasan Dugaan Korupsi Pembangunan LCC
Diharapkan produk khas desa Pulau Maringkik ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk organisasi wanita Lombok Timur.
Dengan begitu akan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat, khususnya komunitas perempuan desa pulau Maringkik.
Terlebih tenun tradisional ini merupakan warisan budaya yang tentunya harus dilestarikan.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/produk-produk-yang-di-kombinasikan-dengan-tenun-pulau.jpg)