NTB
Bupati Lombok Barat Jamin Keberlanjutan Inovasi "Si Peka Bu Siska"
Penulis: Lalu M Gitan Prahana | Editor: Wahyu Widiyantoro
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Lalu M Gitan Prahana
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT - Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid menjamin keberlanjutan dan efektivitas pelaksanaan Sistem Pemantauan Kesehatan Bayi Baru Lahir Berbasis Keluarga (Si Peka Bu Siska) di Lombok Barat.
Fauzan mendukung sepenuhnya pengaplikasian inovasi ini melalui regulasi, berupa Perbub, SK Bupati dan anggaran baik APBD, ADD, mupun anggaran PKK.
Ini dikarenakan inovasi itu berkontribusi besar terhadap penurunan angka kematian bayi di Lombok Barat sejak tahun 2019 lalu.
Demikian yang disampaikan oleh Fauzan Khalid saat mempresentasikan Si Peka Bu Siska kepada tim penilai yang terdiri dari 11 orang anggota Tim Panel Independen (TPI) pada penilaian 45 besar nominasi kompetisi inovasi pelayanan publik tingkat nasional Tahun 2022 yang digelar oleh Kementerian PANRB RI secara virtual.
Baca juga: Presiden Jokowi Beli Sapi Kurban Seberat 1,42 Ton di Lombok Utara, Berapa Harganya?
Untuk diketehui, Si Peka Bu Siska adalah salah satu inovasi Dinas Kesehatan Lombok Barat yang berhasil lolos 99 besar nominasi kompetisi inovasi pelayanan publik tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian PANRB RI.
Kemudian jika berhasil masuk 45 besar, Lobar berhak memperoleh DID (Dana Insentif Daerah) senilai 6 Miliar Rupiah dalam bentuk anggaran pembangunan kesehatan.
Dalam persentasinya, Fauzan juga memaparkan tentang inovasi pelayanan Publik dan Komitmen Pemerintah Daerah dalam mendukung keberlanjutan inovasi pelayanan publik tersebut.
Dimana inovasi ini menjadi salah satu solusi terhadap beberapa kendala pembangunan kesehatan di Lombok Barat.
Seperti kondisi geografis wilayah, budaya masyarakat, keterbatasan jumlah tenaga kesehatan, serta kurangnya pengawasan usia neonatal.
"Tantangan penerapan inovasi inipun relatif ringan karena hanya bersifat internal, sehingga kami yakin mampu mengatasinya," ujar Fauzan Khalid.
Ia juga menambahkan, inovasi ini juga menjadi salah satu indikator keberhasilan pelaksanaan Posyandu Keluarga, yakni sejauh mana penerapannya dalam pembinaan dan sosialisasi bagi keluarga.
Sistem pemantauan ini telah diuji cobakan di dua desa, yakni Kuripan dan Gerung Utara pada akhir tahun 2019
"Dan hasil evaluasi sampai dengan Juni 2022 sebanyak 77.3 persen neonatal mampu dipantau melalui inovasi ini dengan tingkat kepatuhan 82.7%," jelasnya.
Selain itu, inovasi ini dapat mencegah kerterlambatan identifikasi risiko dan masalah kesehatan sejak dini di tingkat keluarga, sehingga dapat dilakukan penanganan secara cepat dan tepat.
Pada Indikator outcome terjadi trend penurunanan kasus komplikasi bayi baru lahir dari 1.405 kasus (68.2%) pada tahun 2019 menjadi 1.309 kasus (63.9%) pada tahun 2020 dan 1.228 kasus (62.3%) pada tahun 2021.
Baca juga: 110 Orang Daftar Jadi Calon Anggota Bawaslu NTB
Pada indikator dampak, terjadi penurunan jumlah kematian bayi dari 54 kasus pada tahun 2019 menjadi 42 kasus pada tahun 2021.
Kemudian prevalensi stunting juga menurun dari 33.3% tahun 2019 menjadi 22.5% pada tahun 2021 dan menurun menjadi 20.37% pada Februari 2022.
"Semoga pengaplikasian inovasi ini dapat menekan angka kematian bayi serendah mungkin di Lombok Barat serta mencegah stunting sejak dini," harap Fauzan.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/bupati-lombok-barat-si-peka-bu-siska-kematian-bayi.jpg)