Catatan HFN Ke-72: 8 Tahun Geliat Perfilman Komunitas di Sumbawa: Nobar hingga Festival Film
Pada tahun 2014, Sumbawa Cinema Society (SCS), sebuah komunitas film terbentuk di Sumbawa
Hingga usia SCS menjelang delapan tahun terdapat beberapa film pendek yang dihasilkannya yaitu: Menya(M)bung Nasib Di Negeri Orang (2015) karya Anton Susilo; Jon (2015) karya Reny Suci; Elegi Bala’ Puti (2018) karya Yuli Andari Merdikaningtyas; Dimana Nurani (2020) karya Anton Susilo; dan Jastip (2020) karya Reny Suci. Selain itu, terdapat dua film dokumenter karya kolaborasi SCS dengan program Virtual Reality FFD Yogya. Selain Apresiasi dan Produksi Film, mulai tahun 2019, SCS melahirkan sebuah festival film Sumbawa yang mengangkat tema tentang Warna Keberagaman. Festival film ini diawali dengan acara coaching clinic yang diikuti oleh anak muda Sumbawa.
Komunitas SCS hadir di Sumbawa perlahan-lahan ingin membangun ekosistem perfilman yang ada di Sumbawa. Sehingga berbagai lini dari ekosistem perfilman dibenahi antara lain apresiasi, produksi, distribusi, ekshibisi, edukasi, dan arsip. SCS hadir untuk menciptakan sebuah ekosistem yang kecil namun solid untuk tujuan pemajuan kebudayaan lokal melalui film.
Merayakan Sinema Melalui Festival Film Sumbawa
Tepat lima tahun setelah SCS berdiri, tahun 2019, SCS mulai menginisiasi sebuah festival film yang menyasar anak muda kreatif baik dari kalangan SMA maupun mahasiswa. Untuk kompetisi ide cerita, pelajar dari SMA/SMK/MA menjadi sasaran Festival Film Sumbawa (FFS). Dengan didukung oleh Dewan Kesenian Kabupaten Sumbawa (DKS), festival film membuka pendaftaran bagi ide cerita. Melalui festival ini, setidaknya ada 8 film yang diproduksi yaitu Pelita Kebhinekaan (SMAK St. Gregorius), Aku dan Mereka (SMKN 1 Sumbawa), Harmoni Bertetangga (SMAN 2 Sumbawa), Tanjung Harapan (SMAK St. Gregorius), 1:5 Masihkah Perbedaan Itu Penting? (SMAN 3 Sumbawa), The Difference (SMKN 1 Sumbawa), Seribu Kaki Satu Langkah (SMAK St. Gregorius), dan Aku Bisa (SMKN 3 Sumbawa).

Tahun 2020, dalam suasana pandemi, FFS#2: Melestarikan Budaya Sumbawa Di Tengah Pandemi COVID-19 terselenggara berkat dukungan DKS dan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Regional Bali, NTB, dan NTT. Kompetisi film dilakukan dengan cara beradaptasi dengan suasana pandemi yaitu dengan menggunakan metode hybrid. Pengembangan cerita peserta dilakukan secara daring via Zoom Meeting dengan pembicara Tonny Trimarsanto. Karena ketatnya pemberlakukan social distancing maka kompetisi film yang dibuka hanya kompetisi film dokumenter pendek untuk pelajar. Namun meski demikian, animo masyarakat tetap tinggi ditandai dengan keikutsertaan dalam lomba maupun dukungan kepada teman-teman mereka. Dari Festival ini dihasilkan 13 (tiga belas) karya dokumenter pelajar dengan 8 (delapan) karya dokumenter yang dinyatakan memenangkan Mangkar Awards.
Di tahun ketiga, FFS#3 bertajuk Perempuan, Alam, dan Ketahanan Budaya berlangsung masih di tengah suasana pandemi. Penyiasatan sistem hibrid menjadi salah satu yang diterapkan. Kompetisi ide cerita kembali dibuka untuk mahasiswa dan alumni FFS, paralel dengan kompetisi film dokumenter pelajar. Dari festival ini dihasilkan tiga film pendek hasil kompetisi yaitu Selembar Kertas (Harsa Perdana), Mengalir (Tiara Dwi Aryanti), dan Baseme (Indri Ardianti). Sedangkan untuk kompetisi film pelajar ada empat karya yang memenangkan Mangkar Awards.
Road To FFS#4: Budaya Lokal dan Perubahan Iklim
Penyelenggaraan FFS tahun ini akan diselenggarakan dengan tema: Budaya Lokal dan Perubahan Iklim. Tema ini diangkat dengan tujuan merayakan terpilihnya Sumbawa sebagai Ibukota Kebudayaan dengan Kategori Biosfer dan Perubahan Iklim oleh Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).
Film merupakan medium yang memiliki kekuatan dalam menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pihak terkait. Begitu pula sebagai alat cerminan untuk melihat kembali atau mengkritisi langkah-langkah pemerintah terutama dalam hal kebijakan yang turut berkontribusi pada degradasi lingkungan maupun perubahan iklim. Selain itu, melalui film apa yang telah dilakukan oleh daerah juga bisa dipertontonkan misalnya upaya pengentasan stunting, peningkatan destinasi wisata sejarah budaya, dan sebagainya.
Alhamdulillah, tahun ini Pemerintah Kabupaten Sumbawa seperti yang disampaikan oleh Bapak Bupati H. Mahmud Abdullah berkomitmen untuk mendukung FFS#4: Budaya Lokal dan Perubahan Iklim. Semoga dengan adanya dukungan pemerintah daerah, kegiatan perfilman di Sumbawa semakin maju. Jayalah film Sumbawa, jayalah film Indonesia…
Yuli Andari Merdikaningtyas adalah Pegiat Komunitas Sumbawa Cinema Society (SCS) dan ketua Yayasan Masyarakat Film Sumbawa (YMFS)