Membaca Kisah Datoq Gelogor, Ulama NTB yang Pernah Dikunjungi Soekarno
Sikap Datoq Gelogor yang terbuka terhadap kelompok ideogis mana pun menjadi keunikan tersendiri
Penulis: Robbyan Abel Ramdhon | Editor: Wahyu Widiyantoro
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Lombok Barat
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT - salah satu penulis buku Historiografi Ulama Sunyi Pahrizal Iqrom menceritakan kisah seorang tokoh Islam yang banyak melakukan syiar saat masa kolonial.
Prolog tersebut disampaikan Iqrom untuk mewakili rekan penulisnya dalam menggarap buku Historiografi Ulama Sunyi, Taufan Rahmadi di acara bedah buku Historiografi Ulama Sunyi.
"Tokoh ini ramah lingkungan, dan bisa diterima di semua golongan," buka Iqrom, menuturkan kesannya terhadap Datoq Gelogor atau yang bernama asli Guru Haji Nasruddin.
Baca juga: Jelang Ramadhan, Peziarah Ramai Kunjungi Taman Makam Loang Baloq: Cari Berkah hingga Panjatkan Hajat
Baca juga: SEJARAH NWDI, Didirikan TGKH M Zainuddin Abdul Madjid, Kini Dipimpin TGB KH M Zainul Majdi
Menurutnya, sikap Datoq Gelogor yang terbuka terhadap kelompok ideogis mana pun menjadi keunikan tersendiri bagi sosok yang pernah dikunjungi Presiden Soekarno itu.
"Ini satu keunikan tersendiri untuk merangkai semangat kita menjadi satu bangsa. Tokoh ini juga menjadi mercusuar bagi gerakan politik dan syiar Islam," ucapnya dalam acara di Dinas Arsip dan Perpustakaan Lombok Barat, Senin (28/3/2022).
Menyambung pendapatnya mengenai Datuq Gelogor, Iqrom mengatakan, tokoh tersebut adalah teladan bagi semua umat.
Tidak hanya Lombok Barat yang menjadi lokasi Desa Gelogor tempat bermukimnya.
Namun ia juga bisa menjadi teladan untuk masyarakat Lombok maupun NTB.
"Zuriat-zuriat beliau dikehendaki untuk menjadi milik bersama. Dan tauladannya bisa dirasakan semua pihak," ujarnya.
Wahyu Raharjo, General Manager (GM) Penerbit Elex Media Komputindo yang menerbitkan buku tersebut, mengungkapkan kategori buku sejarah jarang diterbitkan oleh pihaknya.
Namun untuk kesempatan menceritakan Datoq Gelogor, dijelaskannya, Elex Media Komputindo memiliki sikap khusus untuk mengistimewakan tokoh tersebut.
"Jarang kita menuliskan ulang sejarah, karena kita hidup di budaya lisan," cetusnya.
Menjelaskan alasannya, akademisi filsafat tersebut mengatakan, budaya lisan cenderung terlalu banyak "bumbu" saat menceritakan.
Karena itu ia menganggap buku Historiografi Ulama Sunyi penting ditulis untuk membaca ulang sejarah Islam di Lombok dan mempelajarinya dengan lebih jelas.
"Buku ini penting, menulis ulang sejarah karena kita harus mempelajarinya kembali," tegasnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/buku-historiografi-datoq-gelogor.jpg)