NTB
Mengenal Barempuk, Tradisi Tinju Tradisional Khas Sumbawa
Penulis: Galan Rezki Waskita | Editor: Maria Sorenada Garudea Prabawati
Laporan Wartawan Tribunlombok.com, Galan Rezki Waskita.
TRIBUNLOMBOK.COM, SUMBAWA - Barempuk adalah tradisi tunju tradisional masyarakat Sumbawa.
Barempuk tumbuh di masyarakat agraris Sumbawa sekitar tahun 1545.
Penjelasan ini dipaparkan Budayawan Sumbawa H. Hasanuddin, dalam diskusi pembuatan Film Barempuk yang digagas Lembaga Analis dan Kajian Kebudayaan Daerah (Linkkar), Kamis, (10/3/2022).
Pada tahun itu, Sunan Prapen datang berdakwah ke Sumbawa dan membuat bangunan irigasi.
Bangunan itu adalah Reban Aji yang ada di wilayah Desa Pungka.
Dari kerja tersebut, hasil pertanian menjadi melimpah.
Seperti di hampir semua daerah agraris, masyarakat mengadakan pesta sebagai wujud kebahagiaan panen.
"Di Sumbawa melakukan barempuk karena senang, bahagia, dan bersyukur," kata H. Hasanuddin, lelaki yang kerap di sapa H. Ace itu.
Baca juga: Tuan Guru Bajang: Mengkhianati Indonesia Sama dengan Mengkhianati Sang Pencipta
Lelaki Sumbawa melakukan Barempuk dengan menggenggam jerami.
Keringat para petarung dihakikatkan memberi kesuburan pada tanah yang dijatuhinya.
"Itu makanya dia berkelahi, Barempuk sampai keluar keringat dinginnya," jelas H. Ace.
Barempuk biasanya didampingi oleh sandro (dukun) yang paham ilmu kanuragan.
Ada pula aktivitas gero (memberi suara penyemangat), menembangkan lawas (puisi khas Sumbawa) yang dibarengi gerakan ngenyar (Gerakan mencari lawan).
Ada pula penggunaan minyak lala (minyak tradisional Sumbawa).
Minyak ini memiliki banyak fungsi.
Baca juga: Mengenal Tarian Suling Dewa di Bayan, Tari Ritual Pemanggil Hujan hingga Pengusir Hama
Baca juga: Ini Daftar Tempat Penukaran Tiket MotoGP Mandalika 2022 dari e-Ticket Menjadi Gelang
Satu diantara manfaatnya, minyak ini dianggap dapat melemaskan otot dan membuat badan menjadi kebal pukulan.
Barempuk sempat dibuatkan kejuaraan oleh Pemerintah seiring munculnya jawara-jawara dari setiap penjuru Sumbawa.
Pada tahun 80-an, barempuk mulai dihentikan Pemerintah karena sering terjadi dendam-dendam di luar arena.
Persoalan ini terjadi karena masyarakat sudah tidak memahami makna Barempuk yang sebenarnya.
Namun H. Ace berharap melalui Film yang digarap Linkkar ini, Barempuk dapat kembali dikenal sesuai dengan nilai aslinya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/tradisi-barempuk-di-sumbawa-tyt6767fghghgh.jpg)