NTB

Sejarah NTB Dipimpin 8 Gubernur, Melawan Kelaparan hingga Jadi Pusat Perhatian Dunia

TribunLombok.com/Sirtupillaili
GUBERNUR: Deretan foto gubernur NTB dipampang saat HUT ke-63 NTB di kantor Gubernur NTB, Jumat (17/12/2021).  

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Sirtupillaili

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Hari ini, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berusia 63 tahun.

Setengah abad lebih, provinsi ini dibangun dengan penuh perjuangan.

Setahap demi setahap, NTB yang awalnya diterpa bencana kelaparan, kini menjadi pusat perhatian dunia.

NTB jadi buah bibir setelah berbagai event internasional digelar di Lombok-Sumbawa.

Seperti World Superbike (World SBK) dan MotoGP hingga F1 yang akan digelar mulai 2022.

Baca juga: HUT ke-63 NTB, Gubernur Zul: Bencana Menyadarkan Kita Pentingnya Jaga Lingkungan

NTB merupakan provinsi kepulauan yang terletak di tenggara Indonesia dengan dua pulau utama Lombok dan Sumbawa.

Kedua pulau ini memiliki karakteristik alam, sosial ekonomi dan budaya masyarakat yang berbeda namun saling melengkapi.

Gedung Pemprov NTB
Gedung Pemprov NTB (TribunLombok.com/Sirtupillaili)

Menjadi satu modal dasar pembangunan untuk dikembangkan bersama.

NTB juga memiliki ratusan pulau-pulau kecil yang menyimpan potensi besar.

Menjadi satu pesona tersendiri yang bernilai jual tinggi.

Baca juga: Jelang MotoGP Mandalika, Presiden Jokowi Minta Vaksinasi NTB Harus 100 Persen

Di awal masa kemerdekaan, NTB menjadi bagian dari Provinsi Sunda Kecil yang beribu kota di Singaraja Bali.

Sunda Kecil merupakan provinsi yang di dalamnya bergabung Bali, NTB dan NTT.

Ketika Republik Indonesia Serikat (RIS) berdiri pada Desember 1949, NTB menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur.

Tidak berlangsung lama, NTB kemudian menjadi provinsi sendiri pada 17 Desember 1958 dengan bergabungnya pemerintahan Pulau Lombok dan Sumbawa.

Hal ini berdasarkan UU Nomor 64 Tahun 1958 tanggal 14 Agustus 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Swatantra Tingkat I Bali, NTB dan NTT.

Momen inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya Provinsi NTB hingga kini.

Masa Pemerintahan Gubernur Roeslan Tjakraningrat (1958-1966).

Roeslan Tjakraningrat memimpin NTB dengan tantangan utama krisis pangan dan ancaman kelaparan yang nyata.

Pada 1959, tak kurang dari 10 ribu jiwa warga Lombok selatan meninggal dunia karena kekurangan gizi yang parah.

Pada periode 1965-1966 di saat situasi politik nasional bergejolak karena meletusnya pemberontakan komunis, kembali bencana kelaparan besar terjadi di Lombok selatan dan umumnya Pulau Lombok.

Sepanjang kurun waktu itu, hampir 80 persen areal pertanian gagal panen.

Sekitar 20 ribu kepala keluarga hidup dalam kesulitan pangan yang berat.

Gizi buruk menimpa ribuan anak-anak.

Dengan segala keterbatasannya, delapan tahun memimpin NTB, Gubernur Roeslan berusaha keras menjadikan NTB daerah yang lebih baik.

Meletakkan fondasi pemerintahan dan pembangunan daerah. Memperkuat nasionalisme dan semangat kebangsaan.

Merekatkan kebersamaan antar segenap kelompok-kelompok di tengah masyarakat NTB yang plural.

Dalam sejumlah aspek inilah, Roeslan Tjakranigrat memberikan warisannya untuk NTB.

Masa Pemerintahan Gubernur HR Wasita Kusumah (1966-1978).

Di masa pemerintahan Gubernur Wasita Kusumah inilah usaha-usaha yang lebih mendalam mengatasi kemiskinan dan kelaparan di NTB khususnya di Pulau Lombok dilakukan.

Antara lain dengan membentuk program Gugus Tugas Lombok.

Pada masa inilah mulai muncul keyakinan bahwa ancaman gagal panen dan kelaparan bukan sesuatu yang tidak bisa dihilangkan.

Pelan namun pasti, masyarakat Lombok selatan tumbuh keyakinannya bahwa hidup mereka bisa berubah.

Pemerintah NTB pun tumbuh keyakinannya bahwa kemiskinan dan kelaparan di Lombok selatan bisa teratasi dengan terus mendorong percepatan pembangunan.

Masa Pemerintahan Gubernur Gatot Soeherman (1978-1988).

Di awal masa kepemimpinannya, sejarah tertoreh.

NTB swasembada beras pada 1984.

Buah dari Operasi Tekad Makmur (OTM) yang mulai dilakukan pada musim tanam 1980-1981.

Ketika itu OTM dilakukan pada areal seluas 26 ribu hektar di Lombok selatan dengan mendorong intensifikasi padi gogo rancah (Gora).

Inilah operasi pertanian yang mungkin salah satu yang terbesar di era orde baru dan sekaligus tersukses capaiannya.

Masa Pemerintahan Gubernur Warsito (1988-1998).

Gubernur Warsito memimpin NTB selama 10 tahun.

Ia mewariskan satu prestasi besar dari pendahulunya yang berhasil membawa NTB swasembada beras pada 1984.

Selain terus memantapkan capaian swasembada beras itu, Warsito juga meletakkan sejumlah fondasi penting, salah satunya yang menonjol yaitu fondasi pembangunan sektor pariwisata.

Demikian juga dengan gagasan memiliki bandara internasional kawasan selatan Lombok, membangun infrastruktur jalan, dan membentuk Badan Promosi Pariwisata Lombok-Sumbawa.

Embrionya dimulai di era Warsito.

Kemudian dilanjutkan dengan lebih nyata dan besar oleh gubernur berikutnya

Masa Pemerintahan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB Harun Al Rasyid – Syahdan (1998-2003).

Harun Al Rasyid adalah gubernur NTB pertama yang bukan berasal dari militer.

Ia juga gubernur pertama yang merupakan putra asli daerah.

Pada era kepemimpinannya, hubungan pusat-daerah banyak mengalami perubahan mendasar.

Era otonomi yang bergulir sebagai buah dari reformasi politik, memberi kesempatan luas bagi daerah mengelola lebih mandiri potensi sumber daya lokal bagi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.

Salah satu program yang menonjol adalah GEMA PRIMA (Gerakan Mandiri Perubahan Perilaku Masyarakat dan Aparat).

Gerakan ini dirancang sebagai satu cara inovatif mendorong terjadinya perubahan perilaku masyarakat, terutama perubahan perilaku dalam pelayanan dasar (pendidikan dan kesehatan) serta produktivitas bekerja.

Masa Pemerintahan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB Lalu Serinata – Bonyo Thamrin Rayes (2003-2008).

Seperti pendahulunya Harun Al Rasyid, Lalu Serinata juga berhadapan dengan sejumlah perubahan politik dan pemerintahan di tingkat nasional.

Pada masanya era baru otonomi daerah makin diperkuat.

Sepanjang lima tahun memimpin NTB, Lalu Serinata berhadapan dengan tantangan besar menurunkan angka kemiskinan, meningkatkan investasi, memantapkan infrastruktur, serta perbaikan indeks pembangunan manusia (IPM).

Masa Pemerintahan Gubernur dan Wakil Gubernur TGB H Muhammad Zainul Majdi – Badrul Munir & Muhammad Amin (2008-2018).

TGB H Muhammad Zainul Majdi merupakan gubernur NTB pertama yang terpilih melalui proses pemilihan langsung pada pemilihan kepala daerah NTB Mei 2008.

Program-program yang pernah bersinar selama dua periode kepemimpinannya bersama dua wakil gubernur berbeda.

Seperti program PIJAR (sapi, jagung, rumput laut), NTB Bumi Sejuta Sapi (BSS) , Visit Lombok Sumbawa.

Pencapaian terbaik MDG’s, pengembangan wisata halal dan berbagai program lainnya.

TGB berhasil menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran serta meningkatkan peringkat IPM NTB secara nasional.

Di masa kepemimpinan TGB Lombok menjadi destinasi wisata halal terbaik dunia.

Masa Pemerintahan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB H Zulkieflimansyah dan Sitti Rohmi Djalilah (2018-2023).

Waktu terus berlanjut dan pembangunan terus berjalan.

Suksesi kepemimpinan antar masa pun senantiasa berganti.

Sejak berdiri hingga kini, NTB telah di pimpin delapan orang gubernur.

Sejak gubernur pertama Roeslan Tjakraningrat dilantik pada 1958 hingga Zulkiflimansyah saat ini, terbentang rentang waktu 63 tahun lamanya.

Sepanjang kurun waktu itu, banyak capaian pembangunan dihasilkan dan tantangan yang harus dituntaskan.

Kesinambungan menjadi kata kuncinya.

Tak ada hasil yang bisa instan dan pembangunan diteruskan secara berkelanjutan dan berkesinambungan.

NTB telah menempuh satu jalan panjang pembangunan.

Kini Nusa Tenggara Barat dipimpin Zulkieflimansyah dengan wakilnya
Sitti Rohmi Djalilah.

Dengan visi NTB Gemilang melalui berbagai program unggulan seperti Industrialisasi, 1.000 cendikia, Revitalisais Posyandu, NTB Hijau, NTB Zero Waste, hingga Desa Wisata.

Tapi tantangan masa kepemimpinan Zul-Rohmi tidak mudah.

Di awal menjabat mereka langsung mendapatkan tugas untuk melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi ratusan ribu rumah warga yang rusak karena gempa 2018.

Belum selesai penanganan dampak gempa, tahun 2020 NTB harus berjuang melawan pandemi Covid-19 hingga saat ini.

Selama tiga tahun memimpin NTB, berbagai capaian pernah ditorehkan.

Antara lain seluruh stakeholder di bawah kepemimpinan Zul-Rohmi, pemerintah pusat memberikan penilaian peringkat ketiga nasional dalam kategori Pemerintah Provinsi sebagai Badan Publik Informatif.

Sejarah pun terukir di masa kepemimpinan Zul-Rohmi. Event balap dunia, World Superbike (WorldSBK) sukses digelar.

Sebentar lagi akan digelar perhelatan MotoGP di Sirkuit Mandalika tahun 2022.

Visi NTB Gemilang, kata Gubernur Zul, akan membawa perubahan besar bagi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.

Semangat, optimisme dan kepercayaan diri bahwa masyarakat NTB punya kemampuan dan peluang mewujudkan hal-hal terbaik.

Ke depan, NTB masih akan terus melangkah menyelesaikan agenda-agenda besar pembangunan.

"Kita harus menjaga kebersamaan sebab tantangan ke depan makin besar dan beragam," katanya.

Juga harus bisa menggesa prioritas dan potensi pembangunan yang NTB miliki.

Sebab hanya dengan itu NTB menjadi pelaku utama dan penerima manfaat terbesar dari pembangunan.

Selalu ada berkah dari setiap musibah.

Selalu ada solusi dari setiap masalah.

"Berbekal doa, ikhtiar, kerja keras, dan dukungan seluruh masyarakat, tak ada yang tak mungkin untuk mewujudkan NTB Gemilang," tandanya.

(*)