Breaking News:

NTB Buat Pabrik Pemusnah B3, 300 Kg Limbah Medis Diolah Tiap Jam

Setelah puluhan tahun, Nusa Tenggara Barat (NTB) akhirnya memiliki pabrik pemusnah limbah medis bahan beracun berbahaya (B3)

Penulis: Sirtupillaili | Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
Dok. Pemprov NTB
PABRIK LIMBAH: Pabrik pemusnah limbah B3 di Sekotong, Lombok Barat, Senin (13/9/2021).  

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Sirtupillaili

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT - Setelah puluhan tahun, Nusa Tenggara Barat (NTB) akhirnya memiliki pabrik pemusnah limbah medis bahan beracun berbahaya (B3). 

Pabrik ini dengan fasilitas incinerator khusus limbah medis ini beroperasi di Dusun Koal, Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. 

Pengoperasian pabrik diresmikan Gubernur Provinsi NTB Zulkieflimansyah, Senin (13/9/2021). 

Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PLB3) Rosa Vivien Ratnawati yang hadir dalam peresmian itu menjelaskan, selama ini sebagian besar limbah medis NTB diekspor ke Pulau Jawa. 

Limbah tersebut dimusnahkan menggunakan jasa pemusnah limbah medis di sana. 

"Pabrik ini sudah punya izin dan bisa menerima limbah medis," katanya. 

Baca juga: Bila Temukan Lumba-lumba Terdampar, BKSDA NTB: Jangan Ditangkap Tapi Lapor ke Petugas

Kementerian, kata Rosa, juga menyiapkan anggaran khusus untuk operasional pengumpulan limbah selain bantuan tiga kendaraan operasional. 

Gubernur NTB Zulkieflimansyah meninjau pabrik pemusnah limbah B3 di Sekotong, Lombok Barat, Senin (13/9/2021). 
Gubernur NTB Zulkieflimansyah meninjau pabrik pemusnah limbah B3 di Sekotong, Lombok Barat, Senin (13/9/2021).  (Dok. Pemprov NTB)

Saat ini, kemampuan incinerator dapat mengolah limbah medis sebanyak 300 kilogram (kg)  per jam dan beroperasi selama 24 jam. 

Ditambah lagi fasilitas pendingin (cold storage) yang dapat menyimpan limbah selama 90 hari sebelum diolahmusnahkan.

Karena itu, Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalillah yang hadir pada acara tersebut, menginginkan limbah medis se-NTB bisa diolah di sini. 

Namun demikian, Rohmi mengakui terdapat beberapa kendala yang harus segera diselesaikan.

"Kendalanya ketersediaan listrik, air, bahan bakar, sinyal komunikasi dan akses jalan yang akan diperbaiki," ujarnya. 

Baca juga: Aset Rp 2,3 Triliun di Gili Trawangan Kembali ke Tangan Pemprov NTB

Rohmi menargetkan, limbah sebanyak 7,2 ton sehari bisa diolah di tempat itu setelah seluruh fasilitas pendukung tadi terpenuhi. 

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved