Breaking News:

Perdagangan Orang di NTB

Tekong Kongkalikong dengan Oknum Petugas Camat hingga Dukcapil

Mereka diberangkatkan dengan dokumen palsu. Usia dan alamat diubah jaringan tekong dan agen. Mereka tidak dikirim ke negara tujuan yang dijanjikan

TribunLombok.com/Sirtupillaili
MIGRAN: Para buruh migran asal NTB datang ke kantor Gubernur Provinsi NTB, bersama BP2MI, Selasa (30/3/2021). Beberapa orang dari mereka merupkan korban TPPO. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Sirtupillaili

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK UTARA - Sri Rabitah dan Juliani, pekerja migran asal Lombok Utara juga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus pengiriman tenaga kerja ke luar negeri.

Juliani dikirim menjadi pekerja migran ke Timur Tengah saat masih berusia 14 tahun.

Mereka juga diberangkatkan dengan dokumen palsu. Usia dan alamat diubah jaringan tekong dan agen. Mereka tidak dikirim ke negara tujuan yang dijanjikan.

Kasus Juliani merupakan perkara TPPO pertama yang masuk meja persidangan di Pengadilan Negeri Mataram, tahun 2018 silam.

Dalam kasus ini, Ombudsman NTB menemukan fakta identitas kedua korban dipalsukan.

Terdapat penyimpangan prosedur penerbitan KTP dan Kartu Keluarga (KK), oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Lombok Barat tahun 2014.

Di Lombok Utara mereka sudah melakukan perekaman e-KTP, tapi terbit identitas baru yang dikeluarkan Kabupaten Lomok Barat.

”Temuan kami, seolah-olah Rabitah lahir dan besar di Lombok Barat, padahal tidak sama sekali,” ungkap Arya Wiguna, Asisten Bidang Penyelesaian Laporan Ombudsman NTB, Senin (22/3/2021).

Dalam data kependudukan Kabupaten Lombok Utara, Rabitah lahir di Desa Sesait.

Halaman
1234
Penulis: Sirtupillaili
Editor: Wulan Kurnia Putri
Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved