NTB
NTB Kaya Potensi Mineral Kritis untuk Pengembangan Energi Terbarukan
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kaya potensi mineral kritis (critical minerals) yang sangat penting untuk mendukung transisi energi bersih, industri hijau, dan pembangunan berkelanjutan global.
Berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM) Nomor 296.K/MB.01/MEM.B/2023 tentang Penetapan Jenis Mineral Kritis, telah menetapkan 47 komoditas mineral kritis yang dinilai strategis bagi ketahanan energi, industri nasional, dan agenda pembangunan berkelanjutan.
"Beberapa mineral kritis utama yang relevan dengan potensi Provinsi NTB antara lain tembaga, aluminium, nikel, dan litium," kata Sekretaris Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTB, Niken Arumdati, Jumat (9/1/2026).
Mineral ini merupakan komponen kunci dalam pengembangan energi terbarukan, kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi (battery storage), serta infrastruktur kelistrikan modern.
Di Provinsi NTB, potensi mineral kritis terutama terdapat pada komoditas tembaga, yang saat ini dikembangkan melalui kegiatan pertambangan dan eksplorasi.
Salah satunya PT Sumbawa Timur Mining (STM) di wilayah Hu’u, Kabupaten Dompu.
Proyek ini memiliki keterkaitan langsung dengan Kanada karena berafiliasi dengan Vale Canada Limited, dan masih berada pada tahap eksplorasi.
Baca juga: Masa Depan Investasi: NTB Bidik Sektor Pariwisata, Pertaniandan dan Energi Terbarukan
Hal ini ia tekankan karena bertepatan dengan rencana kunjungan Menteri Pembangunan Internasional Kanada, Randeep Sarai, ke Provinsi NTB.
Niken menekankan, Pemerintah Provinsi NTB memandang pengembangan mineral kritis tidak semata dari sisi ekonomi, namun juga menekankan aspek keberlanjutan lingkungan, hilirisasi, peningkatan nilai tambah, serta penerapan praktik pertambangan yang baik (good mining practices).
Sejalan dengan itu, kunjungan Menteri Pembangunan Internasional Kanada diharapkan dapat memperkuat kerja sama dalam bidang investasi berkelanjutan, transfer teknologi, penguatan tata kelola, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor mineral kritis dan energi bersih.
Menteri Pembangunan Internasional Kanada, Randeep Sarai, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Negara (Pembangunan Internasional).
Kunjungan Menteri Kanada ke NTB
Rencananya, kunjungan Menteri Randeep Sarai akan berlangsung pada 9–11 Januari 2026, dengan agenda kedatangan pada Jumat, 9 Januari 2026 pukul 18.00 WITA, yang akan disambut dengan jamuan makan malam di Pendopo Gubernur NTB.
Selanjutnya, agenda utama berupa pertemuan bilateral dijadwalkan berlangsung di Bank NTB Syariah dengan durasi sekitar satu jam.
Sebelumnya, Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal menegaskan, paradigma kerja sama yang dibangun bukan lagi sebatas permintaan bantuan, melainkan kemitraan strategis (partnership) yang saling menguntungkan.
Fokus pembahasan diarahkan pada sektor UMKM, kesehatan, akses pasar produk unggulan NTB, serta peluang kerja sama di bidang energi bersih, hilirisasi industri pangan, dan pengembangan mineral kritikal.
Gubernur juga menekankan pentingnya mengedepankan kapasitas dan kualitas tenaga kerja NTB, yang dinilai memiliki kemampuan teknis kompetitif dan tidak kalah dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Potensi NTB dengan 70 persen suplai tenaga kerja produktif menjadi nilai tawar utama, termasuk peluang kerja sama sertifikasi kompetensi tenaga kerja melalui pengiriman tenaga ahli dan lembaga sertifikasi dari Kanada.
Selain itu, NTB akan menawarkan potensi besar di sektor pariwisata, industri pangan, pertanian, perkebunan, serta peternakan dan perikanan, termasuk data populasi ternak, suplai hasil perikanan, dan komoditas unggulan seperti jagung, yang juga menjadi perhatian Kanada.
Sektor pertambangan turut menjadi pembahasan penting, khususnya terkait cadangan emas, tembaga, serta mineral kritikal yang dimiliki NTB beserta lokasi potensialnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Izin-Ekspor-Tambang.jpg)