NTB

Maskapai Samarkand Air Minat Buka Penerbangan Langsung Lombok-Jeddah

Tribunnews.com
PENERBANGAN LANGSUNG - Ilustrasi. Jemaah haji Indonesia tiba di Bandara Jeddah, Arab Saudi. Samarkand Air dan sejumlah maskapai lain melirik pembukaan rute penerbangan langsung Lombok–Jeddah untuk jemaah umrah. 
Ringkasan Berita:
  • Samarkand Air dan sejumlah maskapai lain melirik pembukaan rute penerbangan langsung Lombok–Jeddah untuk jemaah umrah.
  • Gubernur NTB mendorong kesiapan penerbangan dengan menekankan kekompakan PPIU agar rute dapat berkelanjutan.

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, mengungkapkan maskapai Samarkand Air menyatakan minat untuk membuka rute penerbangan langsung (direct flight) dari Lombok menuju Jeddah.

Selain Samarkand Air, beberapa maskapai lain saat ini juga disebut tengah melakukan penjajakan serupa.

Hal tersebut disampaikan Gubernur di sela kegiatan Silaturahim Kesehatan Jemaah Umrah bersama Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Mataram di Fave Hotel Mataram, Selasa (6/1/2026).

“Pemerintah mendorong pesawatnya masuk, namun PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah) yang harus kompak mengoordinasikan jemaahnya. Jangan sampai berebutan hingga pesawat kosong. Kita harus kompak agar penerbangan ini berkelanjutan,” tegas Gubernur Iqbal saat menghadiri Silaturahim Kesehatan Jemaah Umrah di Mataram, Selasa (6/1/2026).

Meski mendukung aspirasi masyarakat direct flight Lombok-Jeddah, Gubernur Iqbal mengingatkan harga tiket penerbangan langsung biasanya cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan penerbangan transit.

Perlindungan Jemaah Tetap Utama

Di samping kabar mengenai maskapai, Gubernur Iqbal tetap menekankan aspek keselamatan dan perlindungan jemaah selama di luar negeri adalah prioritas yang tidak boleh dikesampingkan.

Gubernur Iqbal menyoroti tiga pilar utama perlindungan jamaah, yakni pemanfaatan teknologi, mitigasi risiko kesehatan melalui vaksinasi, serta perlindungan finansial melalui asuransi perjalanan.

Ia secara khusus mengimbau para pimpinan rombongan atau tour leader untuk mengunduh aplikasi Safe Travel milik Kementerian Luar Negeri RI sebagai sarana komunikasi darurat dengan perwakilan Indonesia di luar negeri.

“Paling tidak pimpinan rombongannya download, karena itu akan memudahkan komunikasi dengan KBRI jika terjadi sesuatu. Sudah ratusan nyawa terselamatkan melalui aplikasi itu,” tegas Gubernur.

Selain itu, ia mengingatkan setiap negara tujuan memiliki karakteristik risiko kesehatan yang berbeda, seperti meningitis di kawasan Timur Tengah atau yellow fever di Afrika.

Oleh karena itu, vaksinasi tidak boleh dipandang sebatas persyaratan administratif, melainkan sebagai bentuk perlindungan paling mendasar bagi jamaah.

Ia juga mendorong jamaah untuk melengkapi diri dengan travel insurance guna mengantisipasi berbagai risiko, mulai dari gangguan kesehatan hingga permasalahan teknis seperti kehilangan barang dan keterlambatan penerbangan.