NTB

67 Tahun NTB: Manifestasi Visi Makmur Mendunia dalam Aksi

Istimewa
HUT NTB - Anugrah Fajar Fahrurazie dan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal. Sebuah artikel opini '67 Tahun NTB: Manifestasi Visi Makmur Mendunia dalam Aksi'. 

Oleh : Anugrah Fajar Fahrurazie, S.IP, M.Si, C.M.C 

TRIBUNLOMBOK.COM - Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67 Provinsi Nusa Tenggara Barat seharusnya tidak berhenti sebagai perayaan simbolik.

Ia merupakan momentum reflektif untuk membaca arah perjalanan daerah, apa yang telah dicapai, apa yang masih tertinggal, serta bagaimana NTB menyiapkan diri menghadapi masa depan.

Dalam satu tahun terakhir, wajah NTB memperlihatkan perubahan yang menggembirakan.

Bukan hanya melalui panggung besar seperti Mandalika yang bergaung hingga tingkat internasional, tetapi juga melalui kerja-kerja yang lebih sunyi namun menentukan lewat semangat Gerak Cepat NTB Hebat.

Semangat ini menjadi kompas kepemimpinan Dr. H. Lalu Muhammad Iqbal dan Hj. Indah Damayanti Putri dalam menyinergikan panggung global dengan penguatan lokal, memastikan bahwa kesejahteraan daerah pada akhirnya ditentukan oleh seberapa baik pemerintah melayani warganya dalam kehidupan sehari-hari.

Mandalika memang telah menjadi etalase global NTB. Berbagai ajang internasional yang digelar bukan sekadar soal gengsi, tetapi turut mendorong geliat ekonomi lokal, pariwisata, hingga UMKM.

Namun, di bawah kepemimpinan yang baru berjalan sepuluh bulan ini, keberhasilan tersebut diperluas melalui visi konektivitas yang lebih agresif.

Upaya “menduniakan” NTB kini diiringi langkah konkret berupa pembukaan lima rute penerbangan nasional baru serta persiapan rute internasional menuju Perth, Darwin, dan Bangkok pada 2026.

Bahkan, inovasi penerbangan seaplane yang menghubungkan bandara dengan gugusan pulau-pulau kecil mulai dipersiapkan. Ini menjadi bukti bahwa panggung global tidak boleh bersifat eksklusif, ia harus memiliki urat nadi yang terhubung hingga ke pelosok daerah agar pertumbuhan ekonomi tidak terkonsentrasi di satu titik semata.

Di balik gegap gempita pariwisata, wajah sejati pemerintahan tercermin pada keberanian mengeksekusi kebutuhan dasar yang selama ini menjadi tantangan klasik.

Dalam waktu singkat, fondasi “NTB Makmur” mulai terlihat dari capaian angka yang berbicara secara objektif. Tingkat kemiskinan berhasil ditekan dari 11,91 persen menjadi 11,78 persen pada tahun 2025.

Di sektor agraria, optimalisasi lahan seluas 10.700 hektare bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan upaya nyata untuk memastikan petani yang semula hanya sekali tanam dapat meningkat menjadi dua hingga tiga kali tanam.

Dampaknya signifikan bagi ketahanan pangan rakyat: produksi padi melampaui dua juta ton dan Nilai Tukar Petani (NTP) meningkat hingga mencapai angka 128 pada November 2025. Data ini merupakan manifestasi senyum petani yang kembali merekah karena hasil keringat mereka kini memiliki nilai tawar yang lebih kuat.

Sektor kesehatan pun tidak luput dari sentuhan teknokratis yang berdampak langsung pada keadilan sosial. Kenaikan status Rumah Sakit Manambai Abdul Kadir di Sumbawa menjadi rumah sakit tipe B merupakan kado nyata bagi pemerataan layanan kesehatan.

Kebijakan ini memutus “jarak nasib” warga Pulau Sumbawa yang selama ini harus menyeberang ke Mataram untuk memperoleh layanan medis lanjutan. Langkah tersebut diperkuat dengan diresmikannya Gedung Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) di RS Mandalika, sebuah capaian strategis yang menjamin standar pelayanan kesehatan yang lebih manusiawi, adil, dan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi.

Sementara itu, perbaikan total pada empat ruas jalan strategis provinsi mulai dari Simpang Tano–Seteluk di Kabupaten Sumbawa Barat hingga Wakul–Ketejer di Lombok Tengah, menunjukkan bahwa infrastruktur merupakan instrumen utama untuk mengantarkan masyarakat dari isolasi menuju peluang ekonomi.

Seluruh pencapaian ini merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia NTB agar tidak hanya tumbuh secara statistik, tetapi benar-benar berdaya saing di tingkat global.

Namun, pembangunan fisik dan capaian statistik hanyalah raga tanpa jiwa jika tidak dibarengi dengan stabilitas sosial dan persatuan.

Di sinilah kepemimpinan daerah memainkan peran kunci melalui pendekatan kolaboratif dan inklusif. Menggemakan pesan Presiden Prabowo Subianto tentang pentingnya persatuan nasional dan rekonsiliasi, Gubernur Lalu Muhammad Iqbal menegaskan bahwa tujuan mulia dari seluruh perjuangan politik adalah menghadirkan senyum bagi wong cilik. Pesan ini membawa misi besar bahwa perbedaan pilihan merupakan keniscayaan, tetapi cita-cita menyejahterakan rakyat adalah komitmen yang harus dikerjakan bersama tanpa kecuali.

Pembangunan NTB terlalu besar untuk dikerjakan sendiri. Ia membutuhkan orkestrasi yang rapi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, serta seluruh elemen masyarakat. Tidak seorang pun boleh menjadi benalu dalam perjalanan ini; semua harus menjadi penguat dalam koalisi besar demi kepentingan rakyat.

Visi “NTB Makmur Mendunia” sejatinya bukan slogan kosong, melainkan janji masa depan yang tengah dijemput melalui aksi kolaboratif.

Makmur berarti pertumbuhan yang dirasakan secara adil hingga ke meja makan rakyat terkecil, sementara mendunia berarti NTB mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai Bumi Gora.

Di usia ke-67, NTB menunjukkan kedewasaannya, tidak reaktif terhadap kritik, tidak silau oleh pujian, serta tetap fokus pada kerja nyata yang terukur.

HUT NTB tahun ini menjadi momentum syukur yang bekerja syukur yang diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak pada rakyat dan kepemimpinan yang mengutamakan persatuan.

Dengan optimisme yang terarah, kita percaya NTB terus melangkah dengan kepala dingin dan hati yang berpihak pada masyarakat, menjaga keseimbangan antara ambisi pembangunan dan empati sosial untuk mewujudkan NTB yang benar-benar hebat, berdaulat, dan mendunia.