NTB

Anyaman Bambu Loyok Diminati Turis Asing Tapi Terkendala Pengiriman ke Luar Negeri

TRIBUNLOMBOK.COM/ROZI ANWAR
ANYAMAN BAMBU - Perajin anyaman bambu di Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Sopiandi menerangkan hasil kerajinannya, Selasa (9/12/2025). Tidak sedikit wisatawan mancanegara menjadikan Desa Loyok menjadi salah satu desa yang wajib dikunjungi ketika ke Lombok. 
Ringkasan Berita:
  • Sejumlah kerajinan yang dibuat oleh masyarakat di antaranya tas, cap lampu, tempat nasi, dompet, tempat sikat gigi, tempat perhiasan.
  • Wisatawan asing punya minat besar membeli produk kerajinan Loyok.

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar 

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Pengiriman kerajinan anyaman bambu Loyok Lombok Timur ke luar negeri terkendala biaya dan estimasi waktu.

Perajin anyaman bambu di Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Sopiandi mengaku pengiriman ke luar negeri selama ini kendala waktu yang terlalu lama dan biaya pengiriman yang cukup mahal. 

Sebagian besar pengrajin memilih menjual di tempat seperti Loyok Yat artshop ini.

Sopiandi menyebutkan wisatawan asing punya minat besar membeli produk kerajinan Loyok.

"Sebelumnya saya menjadi seorang guide, yang pernah melanglang buana ke berbagai daerah seperti Bali, Sumbawa, dan Flores. Untuk melihat kerajinan bambu saya harus balik kampung membawa tamu bahkan tamu di Kuta selalu mampir ke Loyok untuk melihat kerajinan ini," katanya saat ditemui pada Selasa (9/12/2025).

Sopiandi mengaku di tengah perkembangan zaman saat ini, ia hampir jarang memanfaatkan internet untuk penjualan.

Baca juga: Tembus Pasar Global, Kerajinan Anyaman Bambu Loyok Jadi Penggerak Ekonomi Warga

Namun pemasaran lebih mengandalkan cerita dari cerita, lewat tamu-tamu yang pernah berkunjung ke tempatnya. 

Bahkan tidak sedikit wisatawan mancanegara menjadikan Desa Loyok menjadi salah satu desa yang wajib dikunjungi ketika ke Lombok.  

Kerajinan Loyok dinilai berbeda dengan kerajinan yang lain. Seperti motif dan proses pembuatannya.

"Kerajinan bambu Loyok memiliki 26 motif yang dibuat dengan cara berbeda-beda dan bahannya murni dari bambu," ujar Sopiandi.

Kerajinan-kerajinan itu diambil langsung dari pera pengrajin yang dibuat oleh masyarakat setempat. 

Kerajinan bambu ini diakui menjadi hobi sekaligus mata pencaharian masyarakat Desa Loyok. 

"Sebagian besar masyarakat membuat kerajinan di rumah masing-masing," terangnya.

Ia menyebutkan tidak ada target per Minggu atau per bulan dalam pembuatan kerajinan ini.

"Intinya semakin banyak dan semakin cepat selesai membuat kerajinan, maka semakin cepat mereka dapat bayaran," katanya.

Sopiandi menuturkan pada bulan Juni-Agustus, kunjungan ke Desa Loyok cukup tinggi  tembus hingga 50 orang per hari tetapi ketika kunjungan sedang sepi hanya mencapai 10 orang.

Ia mengaku ilmu kerajinan bambu ini didapatkan secara turun temurun, sehingga untuk Pembinaan ataupun pelatihan hampir jarang dilakukan.  

Sopiandi melihat  generasi muda saat ini jarang yang mau belajar untuk membatu kerajinan bambu seperti yang dilakukan masyarakat terdahulu.

"Kalau kita dulu mulai belajar membuat kerajinan sejak umur 9 tahun. Kalau anak-anak sekarang lebih sibuk dengan kegiatan masing-masing," katanya.

Sejumlah kerajinan yang dibuat oleh masyarakat diantaranya tas, cap lampu, tempat nasi, dompet, tempat sikat gigi, tempat perhiasan, boks oleh-oleh, hand bag, tempat tisu dan lainnya.

"Saya berharap anak-anak muda saat ini bisa melestarikan kerajinan bambu Loyok ini. Selain menjadi budaya warisan leluhurnya leluhur, juga menjadi salah satu penggerak ekonomi warga," pungkasnya.

(*)