NTB

Perang Topat: Simbol Kerukunan Umat Beragama dan Penggerak Ekonomi Kerakyatan

TRIBUNLOMBOK.COM/Ahmad Wawan Sugandika
PERANG TOPAT - Ribuan warga Lombok Barat tumpah ruah merayakan Pujawali dan Tradisi Perang Topat di Pura Lingsar, Kamis (4/12/2025). Puncak Perang Topat dan Pujawali di Pura Lingsar menegaskan tradisi kerukunan berabad-abad antara umat Islam Sasak dan Hindu Bali. 
Ringkasan Berita:
  • Puncak Perang Topat dan Pujawali di Pura Lingsar menegaskan tradisi kerukunan berabad-abad antara umat Islam Sasak dan Hindu Bali.
  • Event yang masuk KEN 2025 ini secara signifikan menggerakkan ekonomi lokal dengan melibatkan dan memberdayakan banyak UMKM melalui proses kurasi.

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT – Puncak perayaan tradisi tahunan Perang Topat dan Pujawali di Pura Lingsar, Lombok Barat, berlangsung meriah pada Kamis (4/12/2025).

Acara ini menegaskan posisinya bukan hanya sebagai simbol kerukunan antar umat beragama, tetapi juga sebagai pendorong utama ekonomi kerakyatan melalui pelibatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Tradisi yang telah turun-temurun selama berabad-abad ini mendapat pengakuan nasional, dengan masuk dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) 2025 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.

Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, Agus Gunawan, menuturkan rangkaian kegiatan Pujawali dan Perang Topat diselenggarakan selama dua hari penuh.

“Ya, ini kan memang tradisi tahunan. Pujawali kita rangkaikan dengan kegiatan Perang Topat. Ini sudah berabad-abad tahun yang lalu,” ucap Agus.

Ia memprediksi kegiatan budaya yang merupakan simbol kerukunan di Pulau Lombok ini mendatangkan hingga belasan ribu pengunjung dalam kurun waktu seminggu.

Rangkaian Sakral dan Puncak Perang Topat

Rangkaian acara yang mengawali puncak Perang Topat meliputi beberapa prosesi budaya yang sarat makna:

  • Presean: Adu ketangkasan khas Lombok.
  • Penyucian: Prosesi kebersihan.
  • Kelilingan Kauh/Ngeliningan Kaoq: Menggiring kerbau sebagai simbol penghormatan antar umat beragama.
  • Pujawali: Sembahyang bersama umat Hindu di Pura Lingsar.

Puncak acara ditandai dengan Perang Topat, di mana masyarakat saling lempar ketupat sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen yang melimpah dan sebagai wujud nyata kerukunan antar komunitas.

Dampak Ekonomi dan Peran UMKM Lokal

Selain nilai budaya, Agus Gunawan menyoroti multiplier effect event terhadap perekonomian lokal, terutama karena dilaksanakan berdekatan dengan momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru).

"Yang selama dua hari ini kan kalau kita lihat UMKM-nya ini penuh banget. Bukan hanya saja di sekitaran pura, tetapi di luar-luar," jelasnya.

Ia menyebut wisatawan dari Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Lombok Utara tumpah ruah di kawasan tersebut.

Dalam upaya mendukung kualitas UMKM, Dinas Pariwisata berkolaborasi dengan Dinas Koperasi dan Dinas Perindustrian (Perindag) setempat. Kolaborasi ini melibatkan proses kurasi bagi peserta UMKM.

Agus optimis kegiatan ini menciptakan transaksi besar.

"Coba bayangkan, berapa UMKM yang hadir di setiap event? Berapa pengrajin, ekraf, tukang payas (perias), semuanya itu yang berdampak ekonominya multiplayer effect," tegasnya.