NTB

Pesona Budaya 7 Pengadangan dan Metu Telu Perkuat Harmonisasi Ribuan Warga Lombok Timur

Tribunnews.com/Rozi Anwar
BUDAYA - Puncak Pesona Budaya 7 Pengadangan. Ribuan warga memadati Desa Pengadangan untuk puncak Pesona Budaya 7 Pengadangan, yang menampilkan prosesi adat Metu Telu, Betetulak, dan berbagai atraksi budaya. Kegiatan ini mendapat dukungan Pemkab Lombok Timur karena dinilai efektif melestarikan tradisi, menanamkan nilai moral, dan memperkuat persatuan masyarakat. 
Ringkasan Berita:
  • Ribuan warga memadati Desa Pengadangan untuk puncak Pesona Budaya 7 Pengadangan, yang menampilkan prosesi adat Metu Telu, Betetulak, dan berbagai atraksi budaya.
  • Kegiatan ini mendapat dukungan Pemkab Lombok Timur karena dinilai efektif melestarikan tradisi, menanamkan nilai moral, dan memperkuat persatuan masyarakat.

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR – Ribuan warga berbagai usia memadati Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, untuk mengikuti puncak Pesona Budaya 7 Pengadangan yang diwarnai prosesi adat Metu Telu dan Betetulak.

Kegiatan tahunan ini tidak hanya menjadi wadah pelestarian tradisi, tetapi juga ruang harmonisasi yang mendapat apresiasi dan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.

Acara tersebut menampilkan sejumlah atraksi budaya yang memukau, seperti perpaduan kesenian Gendang Beleq, tari Metu Telu, teatrikal Midang, simbolisasi Metu Telu, hingga kirab ribuan dulang Betetulak.

Partisipasi luas masyarakat, mulai dari anak-anak hingga lansia yang membawa sekitar 5.000 dulang Betetulak, menunjukkan kuatnya ikatan sosial dan kekompakan warga desa.

Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, mengapresiasi penyelenggaraan yang dikemas secara unik dan menarik.

Ia menilai Pesona Budaya Pengadangan harus dijadikan sarana penanaman nilai moral, pelestarian tradisi, dan pemersatu masyarakat.

"Budaya salah satu cara untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Pemerintah akan mendukung kegiatan ini karena kegiatan ini sangat positif," jelas Bupati pada Kamis (27/11/2025).

Falsafah Keseimbangan Hidup

Kepala Desa Pengadangan, Iskandar, menjelaskan prosesi Metu Telu memiliki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat Sasak.

Metu Telu, yang secara harfiah berarti "Lahir Tiga", mengajarkan bahwa kehidupan tidak bertumpu pada satu pilar, melainkan tiga poros utama, hukum agama, hukum pemerintahan, dan hukum adat.

"Itu bukan tentang orang salat tiga kali sehari, melainkan falsafah Sasak atau hukum tiga seperti lahir, hidup, dan mati," jelas Iskandar, menegaskan bahwa ajaran tersebut merupakan falsafah tentang keseimbangan hidup.

Kehadiran Bupati dan Wakil Bupati Lombok Timur dalam prosesi Metu Telu dan teatrikal Midang menjadi simbol harmonisasi tiga unsur kehidupan tersebut.

Sinergi antara keduanya dianggap mewakili keselarasan antara pemerintahan, adat, dan agama yang menjadi poros kehidupan masyarakat Pengadangan.

"Kekompakan warga menjadi faktor penting yang mendorong suksesnya penyelenggaraan Pesona Budaya Pengadangan tahun ini," pungkas Iskandar.