NTB

Dewan Supli Soroti Kualitas Pengerjaan 3 Ruang Kelas MI NW Leneng Praya

TRIBUNLOMBOK.COM/SINTO
PROYEK KUALITAS RENDAH - Anggota DPRD Lombok Tengah Dapil Praya-Praya Tengah, Ahmad Supli saat ditemui wartawan di kediamannya di Leneng, Rabu (5/11/2025) malam. Pihaknya merasa kecewa dan malu karena pengerjaan proyek tak sesuai spesifikasi. 
Ringkasan Berita:
  • Anggota DPRD Lombok Tengah, Ahmad Supli, menyoroti dan menyatakan sangat kecewa atas kualitas pengerjaan 3 ruang kelas MI NW Leneng Praya.
 
  • Ketua Yayasan MI NW Leneng Praya juga mengeluhkan masalah kebocoran dan merembesnya air hujan yang mengganggu proses belajar-mengajar.

 

Laporan Wartawan Tribunlombok.com, Sinto

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Anggota DPRD Lombok Tengah Dapil Praya-Praya Tengah, Ahmad Supli menyoroti pengerjaan 3 ruang kelas MI NW Leneng Praya berkualitas sangat rendah. 

Politisi asal Leneng ini mengaku sudah turun melihat langsung kondisi bangunan yang dikerjakan. Supli melihat adanya kebocoran, rembesan air, lantai tidak rata hingga instalasi tak ada. 

Oleh karena itu, dirinya merasa sangat kecewa terhadap kualitas pengerjaan proyek tersebut karena sebelumnya ditender oleh pemerintah daerah lewat Bagian (Kabag) Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) Setda Lombok Tengah.

"Sebenarnya kalau proyek itu pakai tender, mestinya seperti kejadian hari ini tidak boleh terjadi karena itukan banyak rekanan yang turut serta disana. Akhirnya kemudian pengerjaan dari hasil tender sangat mengecewakan," jelas Supli saat ditemui wartawan di kediamannya di Leneng, Rabu (5/11/2025) malam. 

Bagi politisi senior PKS ini, berbagai persoalan yang sesungguhnya harus menjadi bagian dari perencanaan. Seperti misalkan listrik yang menurutnya nilai pengadaan dan pengerjaannya tak banyak namun tak terpasang. 

Sehingga dalam hal ini, lanjut Supli, terhadap hasil dari proyek tender ini dirinya sangat kecewa sekali. Supli juga menyoroti konsultan perencana yang alpa bagaimana bisa instalasi listrik tak terpasang. 

"Mestinya harus ada konsol mestinya, kenapa tidak dibuat? Intinya kualitas pengerjaan ini sangat rendah sehingga akhirnya hujan kemarin sehari langsung bocor, merembes, dia sampai hari ini tergenang di dalam," terang Supli. 

"Saya sebagai anggota dewan (Praya-Praya Tengah) sangat malu terhadap hasil pekerjaan ini. Saya akan minta pertanggungjawaban mereka, pertama lewat media Saya kecewa dan kesal terhadap kualitas pekerjaan," sambung Supli. 

Sebagai dewan yang pernah duduk di komisi IV, Supli melihat setiap titik proyek yang ditender bermasalah seperti Puskesmas Batujangkih, Puskesmas Awang, Puskesmas Batunyala dan sebagainya. 

Oleh karena itu, ia meminta ke depan pemerintah daerah serius supaya persoalan proyek tender tidsk terjadi kembali. 

Pengakuan Ketua Yayasan

Sebelumnya, kontruksi bangunan 3 ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nahdlatul Wathan (NW) Leneng Praya Lombok Tengah dikeluhakan kepala yayasan.

Baca juga: Sempat Dikabarkan Hilang 3 Hari, Nelayan di Sumbawa Barat Ditemukan dalam Kondisi Selamat

Kondisi bocor saat hujan yang terjadi membuat ruang kelas yang baru dibangn itu tergenang.

Terlihat di beberapa titik atap terdapat bekas rembesan air sisa hujan. Bagian paling parah terdapat di pojok selatan bangunan kelas II yang saat musim hujan air mengalir deras. 

Bukan hanya itu, lantai ruang kelas juga diduga tidak rata termasuk pipa instalasi listrik juga tidak terpasang. 

Kondisi ruang kelas tersebut membuat Ketua Yayasan MI NW Leneng Praya, Abdul Hakim merasa kecewa dan mempersoalkan hasil pengerjaan. 

Abdul Hakim menyampaikan, sebagai ketua Yayasan, pihaknya merasa kecewa dengan hasil pekerjaan karena atapnya masih ada bocor dan merembes sehingga mengganggu proses mengajar yang siswanya berjumlah 214 orang. 

Pihaknya sudah mengingatkan kontraktor untuk segera dilakukan perbaikan, namun pihaknya merasa tidak puas dengan jawabannya. 

"Jawabannya adalah memang seperti itu kecuali akan dilanjutkan ke lantai dua. Nah pengalaman saya, saya bilang ke mereka. Bangunan lama disini sudah puluhan tahun tapi tidak bocor," tegas Abdul Hakim

Sementara bangunan yang sedang dikerjakan, lanjut Hakim, belum diserah terimakan namun sudah bermasalah.

Ia menuturkan, saat hujan besar pertama, pihaknya sudah menyampaikan keluhan terebut ke kontraktor supaya disesuaikan dengan perencanaan. Termasuk harus ada konsol (penompang)  belakang bangunan sehingga air tidak masuk ruangan kelas. 

"Nah ini yang perlu kita klarifikasi dari hasil pekerjaan ini. Sementara di uar juga begitu, air banjir di uar, ada videonya kemarin sudah dua kali. Nah harusnya dari sisi perencanaan dari sejak awal itu, dampak kalau terjadi seperti ini, seperti apa? Tapi ini tidak dilaksanakan," jelas Hakim. 

(*)