NTB

Madrasah Entrepreneur: Menyatukan Nilai, Ilmu dan Jejaring

Dok. Istimewa
OPINI - L. M. Abdul Bakir (Sekjen Pemuda Darul Muhajirin). 

Oleh: L. M. Abdul Bakir (Sekjen Pemuda Darul Muhajirin)

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - “Pemuda harus berdaya dan berdikari.” Kalimat singkat Ketua Pemuda Darul Muhajirin, Humam Balya, ini menjadi nada dasar Madrasah Entrepreneur yang mereka gelar sebulan penuh setiap akhir pekan via Zoom.

Program ini mempertemukan anak-anak muda NTB dengan para praktisi yang sehari-hari “berkeringat” di lapangan bisnis. Formatnya sederhana, isinya padat, orientasinya jelas: membangkitkan nyali, menambah kecakapan, dan menautkan jejaring. 

Di tengah tantangan pengangguran muda, ketimpangan akses modal, dan ekonomi digital yang bergerak cepat, inisiatif seperti ini terasa tepat waktu. Apalagi Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, memberi sinyal dukungan konkret. Ia mengapresiasi program ini dan menyatakan akan membantu pemuda yang berani menjadi entrepreneur, termasuk melalui skema modal bergulir. Dukungan politik yang bertemu gerak komunitas adalah kombinasi yang kita butuhkan.

Rangkaian kelas dibuka dengan tema “Entrepreneurship dalam Syariah Islam” bersama Pobian Taftayani, konsultan keuangan dan Executive Director BDO in Indonesia. Sesi ini tidak berhenti pada prinsip, tetapi menyambungkan nilai dengan praktik. 

Pobian mengingatkan teladan Nabi dalam berniaga: jujur, amanah, transparan. Ia menekankan pentingnya produk halal, manfaat sosial, dan disiplin etika. Ia juga mengajak peserta melihat peluang produksi lokal dan ekonomi digital.

Pesan kuncinya tegas: wirausaha itu mencipta nilai melalui ikhtiar yang terukur, sejalan dengan iman, dan ditopang jejaring. Di bagian diskusi, peserta membahas UMKM NTB, inovasi produk, strategi masuk pasar, dan potensi kolaborasi. Ada pula gagasan memanfaatkan zakat sebagai sumber pendanaan sosial yang akuntabel. Kelas pertama ini mengikat nilai, strategi, dan konteks daerah dalam satu rangkaian.

Baca juga: Mispa Ulyani, Mahasiswa Universitas Hamzanwadi Juara Lomba Opini Tingkat Nasional

Arah praktis semakin kuat pada pekan kedua. H. Rezki Ananta, pemilik Relung Coffee, berbagi cara membangun kedai kopi dari nol: memilih lokasi, menyusun menu, menjaga konsistensi rasa, dan menata pengalaman pelanggan.

Ia menerangkan model “direct sourcing” dari petani agar harga adil di hulu, kualitas terjaga di hilir. Diskusi melebar ke strategi pra-pembukaan, kolaborasi influencer, hingga formula sederhana menghitung biaya: sewa tak boleh lebih dari 10 persen omzet, porsi gaji, bahan baku, dan utilitas harus jelas sejak awal. 

Ada pembahasan penting yang menyentuh identitas ekonomi NTB: kopi Lombok kerap “berlabuh” ke pasar sebagai kopi Bali. Ini problem pemasaran dan jejaring, bukan semata kualitas. Solusinya? Bangun pabrik kecil, perkuat branding, libatkan komunitas kreatif, dan dorong pelatihan barista bagi anak muda. Industri kopi bisa menjadi pintu masuk: dekat dengan pariwisata, menyerap kreativitas, dan menghimpun banyak pelaku, dari petani sampai desainer kemasan.

Pekan ketiga menghadirkan Yazid Khadafy, pendiri Bantu Manten. Fokusnya dunia event organizer. Ia menekankan kreativitas, kemampuan beradaptasi, dan manajemen hubungan dengan klien serta vendor. Intinya, bisnis acara berdiri di atas integritas, komunikasi yang rapi, dan perencanaan teliti: dari rundown, anggaran, hingga daftar periksa. Yazid juga mengingatkan sopan-santun profesi: berani minta maaf saat salah, jujur pada batas anggaran, dan tetap memberi solusi.

Ini relevan bagi NTB yang kalender budayanya padat, destinasi wisatanya beragam, dan butuh banyak penyelenggara profesional untuk hajatan keluarga, kegiatan komunitas, dan even pemerintah. Model afiliasi yang ia bangun di beberapa kota membuka peluang ekspansi ke Lombok tanpa beban kepemilikan langsung, tetapi tetap menjaga mutu layanan melalui kemitraan.

Apa makna semua ini bagi Para Pemuda? Program ini menghadirkan rujukan nyata. Bukan motivasi kosong. Narasumber adalah praktisi yang bicara dari pengalaman. Mereka menyajikan “how to”, bukan sekadar “why”. Dalam kelas zoom ini menautkan ekosistem.

Dari halal value chain, kopi, sampai event organizer; dari pembiayaan sosial hingga strategi digital. Tautan seperti ini membuat pemuda melihat peta yang lebih utuh: hulu, hilir, dan jembatan di antaranya. Perlu diperhatikan bahwa dukungan Gubernur memberi ruang untuk bergerak. Modal bergulir yang dikelola baik bisa menjadi pemicu. Tentu dengan syarat: seleksi ketat, pendampingan serius, dan evaluasi berkala agar dana benar-benar melahirkan omzet, bukan menjadi “hadiah” yang menguap.

Tantangan yang Nyata

Di sisi lain, tantangan membentang. Akses pasar masih sempit jika pemain baru jalan sendiri. Kualitas mudah turun jika operasional tidak disiplin. Hak kekayaan intelektual gampang diabaikan jika budaya “mencontek” dibiarkan. Literasi keuangan, pajak, dan pembukuan masih lemah di banyak UMKM. Dan ini yang paling sering luput: daya tahan. Banyak yang bersemangat di awal, lalu melemah di bulan ketiga. 

Maka rekomendasinya jelas dan praktis, Pertama, tetapkan target kecil yang terukur. Mulai dari 50–100 unit produk, uji pasar, catat umpan balik, ulangi perbaikan. Jangan menunggu “sempurna”. Pasar menjadi guru yang paling terang. Kedua, bentuk tim kecil lintas peran: produk, pemasaran, keuangan. Tiga orang yang kompak sering kali mengalahkan sepuluh orang yang bergerak sendiri-sendiri. Ketiga, bangun jejaring pemasaran yang hidup. 

Gunakan kanal lokal: komunitas, masjid, kampus, dan paguyuban desa. Gandeng konten kreator setempat. Pamerkan proses, bukan hanya hasil. Keempat, rapikan pembukuan dari hari pertama. Pisahkan uang pribadi dan usaha.

Ikuti formula sederhana biaya, lacak arus kas mingguan, dan disiplin pada batas sewa serta margin. Kelima, manfaatkan instrumen pembiayaan yang sesuai syariah dan kondisi usaha. Modal bergulir bisa efektif bila dibarengi pendampingan. Zakat produktif bisa menutup celah tahap awal, tetapi tetap perlu tata kelola yang ketat.

Pemerintah daerah punya peran penting di simpul koordinasi. Fasilitasi kurasi produk unggulan per kecamatan. Percepat temu bisnis antara UMKM dan sektor perhotelan, event, dan ritel. Sederhanakan perizinan untuk skala mikro.

Dorong standardisasi mutu dasar seperti label halal, izin edar, sanitasi, dengan jalur cepat bagi usaha pemula yang memenuhi syarat. Bentuk pusat pelatihan intensif tiga bulan yang fokus pada operasional: SOP produksi, quality control, pelayanan pelanggan, dan pemasaran digital. Birokrasi yang proaktif akan melipatgandakan hasil dari modal bergulir.

Akhirnya, Madrasah Entrepreneur memberikan harpan untuk menyatukan nilai, pengetahuan, dan jejaring. Ia membuka peta peluang dari kopi hingga event organizer, dari digital marketing hingga pembiayaan syariah. Ia menautkan dukungan pemerintah dan energi komunitas. Ini fondasi yang kuat untuk melahirkan generasi pelaku, bukan sekadar penonton. 

Maka ajakan saya sederhana: kepada pemuda NTB, ambil satu ide yang paling dekat dengan keahlian Anda, uji pasarnya minggu ini, catat datanya, perbaiki pekan depan. Kecil, cepat, dan konsisten. Dari langkah-langkah kecil yang disiplin, lahir lompatan besar. Dan dari wirausaha yang berdaya dan berdikari, lahir daerah yang mandiri dan bermartabat.

(*)