NTB

Jejak Wisata yang Memudar di Pasar Seni Sesela Lombok Barat

TRIBUNLOMBOK.COM
EKONOMI KREATIF - Penampakan Pasar Seni Suela, Lombok Barat, Kamis (11/9/2025). Pasar seni saat ini dalam kondisi sepi pengunjung. 

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT - Pagi itu, suasana Pasar Seni Sesela terasa lengang. Suara ketukan pahat yang sesekali memantul dari bilik-bilik galeri menjadi satu-satunya tanda kehidupan di Pasar Seni Sesela, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, Kamis (11/9/2025).

Deretan patung kayu, ukiran, dan pernak-pernik seni khas Lombok tersusun rapi, namun nyaris tak tersentuh tangan wisatawan.

Pasar seni yang dulu menjadi salah satu jantung kerajinan Lombok ini kini sepi, jauh dari hiruk-pikuk transaksi yang pernah berlangsung.

“Kalau dibandingkan dengan dulu, jauh sekali bedanya. Dulu tamu yang datang ke rumah, melihat kami bekerja, dan berapapun harga yang ditawarkan mereka senang. Sekarang tidak seperti itu. Sepi, persaingan makin banyak, dan Sesela tidak punya ikon seperti Bali atau Gili Trawangan,” ungkap Saiful (56) seorang seniman sekaligus pelaku usaha.

Kondisi ini tidak terlepas dari dampak pandemi Covid-19. Menurut Bahar (40), pelaku usaha lainnya, sebelum pandemi, wisatawan kapal pesiar rutin datang dalam rombongan besar.

“Sebelum Covid itu tiap hari ada saja tamunya. Kapal pesiar bisa dua sampai tiga hari sekali datang, busnya parkir sampai ke Kongok. Setelah pandemi, semua berubah. Sekarang sepi sekali,” ujarnya.

Selain pandemi, faktor persaingan juga memengaruhi keberlangsungan Pasar Seni Sesela. Lokasinya yang agak masuk tidak berada di jalur strategis seperti sentra kerajinan lain di pinggir jalan besar. Hal ini membuat akses wisatawan lebih sulit.

“Posisi kita memang kurang strategis dibanding pusat kerajinan besar yang berada di jalur utama. Mereka juga lebih memanjakan pemandu wisata dan agen travel, sehingga tamu lebih diarahkan ke sana. Kami sudah sering ikut pameran dan promosi, tapi tetap terasa ada ketidakseimbangan,” jelas Iwan (48), pengelola Pasar Seni Sesela.

Baca juga: Pasar Seni Senggigi, Belanja Souvenir Khas Lombok dengan Suasana Tradisional

Meski sepi, para pelaku usaha masih bertahan. Tak ada yang benar-benar gulung tikar, tetapi aktivitas kreatif mulai macet.

“Pahat sampai berkarat. Semua bantuan pemerintah pun banyak yang terbengkalai karena tidak ada yang mengerjakan. Harapan kami Sesela bisa diperhatikan lagi, seperti dulu,” ucap Iwan.

Iwan menambahkan, saat ini pasar seni masih mengandalkan program kunjungan kapal pesiar. Biasanya pada bulan Oktober hingga enam bulan ke depan, ada rombongan turis yang datang empat kali dalam sebulan. Namun di luar momen itu, pasar tetap lengang.

“Ada pasang surut. Kalau situasi kondusif, kunjungan ramai. Tapi sekarang imbas pergeseran pariwisata ke Kuta membuat Sesela semakin sepi,” paparnya.

Para pelaku usaha menilai, promosi dan perhatian pemerintah masih kurang merata. Mereka menginginkan adanya strategi khusus agar Pasar Seni Sesela bisa kembali menjadi pusat kerajinan yang hidup.

“Sesungguhnya pusat pengrajin itu ada di sini. Tapi karena promosi dan akses kurang, wisatawan lebih memilih tempat lain,” tambahnya.

(*)