NTB
Permudah Mitigasi Bencana, BPBD NTB Perkenalkan Platform Digital SIK SiAGA
Ringkasan Berita:
- Peringatan HKB 2026 di Mataram menjadi momentum bagi Pemerintah NTB untuk memperkuat budaya siaga bencana sebagai investasi keselamatan masyarakat jangka panjang.
- BPBD NTB meluncurkan platform digital SIK SiAGA NTB serta memperkuat ketahanan wilayah melalui program Desa Tangguh Bencana dan kajian mitigasi untuk pulau-pulau kecil.
TRIBUNLOMBOK.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB menggelar rangkaian kegiatan peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026, yang dipusatkan di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Udayana, Mataram, Minggu (26/4/2026).
Dalam kegiatan ini BPBD melakukan sosialisasi berbagai program penanggulangan bencana, salah satunya Sistem Informasi Kebencanaan (SIK) SiAGA NTB.
Platform digital ini dikembangkan untuk menyediakan informasi kebencanaan secara cepat, akurat, dan terintegrasi. Melalui SIK SiAGA NTB, masyarakat dapat mengakses data potensi bencana, peringatan dini, hingga langkah mitigasi.
“Informasi yang tepat waktu dapat menyelamatkan nyawa. Dengan SIK SiAGA NTB, kami ingin memastikan masyarakat memiliki akses terhadap informasi untuk mengambil keputusan yang cepat dan tepat,” kata Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin.
Selain itu, diperkenalkan pula program Desa Tangguh Bencana (Destana) yang bertujuan membangun kapasitas masyarakat desa dalam mengelola risiko secara mandiri. Sosialisasi ini mencakup perencanaan berbasis risiko, pembentukan relawan desa, serta penyusunan rencana kontinjensi.
Upaya penguatan kapasitas juga dilakukan melalui sosialisasi kajian ketangguhan pulau-pulau kecil. Mengingat banyak wilayah di NTB berupa pulau kecil, pendekatan khusus diperlukan untuk memastikan ketahanan wilayah. Kajian ini telah dilaksanakan di Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air (Lombok), serta Pulau Moyo, Pulau Medang, dan Pulau Bungin (Sumbawa).
Strategi pengurangan risiko berbasis pemberdayaan masyarakat juga dikedepankan melalui program Desa Berdaya, yang menekankan kemandirian ekonomi dan sosial sebagai fondasi ketahanan.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan sebagai kunci utama dalam mengurangi risiko dan dampak bencana.
Gubernur Iqbal menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan seluruh elemen masyarakat.
“Kita tidak bisa menghentikan bencana, tetapi kita bisa meminimalkan dampaknya. Kesiapsiagaan adalah investasi keselamatan. Dengan pengetahuan, latihan, dan sistem yang baik, kita mampu menyelamatkan lebih banyak nyawa dan mengurangi kerugian,” ujar Iqbal
Ia menambahkan, NTB memiliki kerentanan terhadap berbagai jenis bencana, seperti gempa bumi, banjir, kekeringan, hingga erupsi gunung api. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan menyeluruh dan berkelanjutan dalam membangun budaya siaga. Peringatan HKB menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran publik sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh BPBD NTB bekerja sama dengan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) NTB, serta didukung oleh Program SIAP SIAGA. Acara melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, instansi vertikal, organisasi kemasyarakatan, komunitas, hingga pelajar.
Kegiatan diawali dengan “Senam Tangguh” yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan. Senam ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga menjadi simbol semangat kebersamaan dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.
Inklusivitas dalam Penanggulangan Bencana
Dalam rangka memastikan inklusivitas dalam penanggulangan bencana, kegiatan ini juga menghadirkan sosialisasi dari Unit Layanan Disabilitas (ULD) BPBD NTB. ULD bertujuan untuk memberikan perlindungan dan pelayanan yang ramah bagi penyandang disabilitas dalam situasi bencana. Sosialisasi ini menyoroti pentingnya pendekatan inklusif dalam setiap tahapan penanggulangan bencana, mulai dari mitigasi hingga rehabilitasi.
“Kita harus memastikan bahwa tidak ada satu pun yang tertinggal dalam upaya penyelamatan. Penyandang disabilitas memiliki kebutuhan khusus yang harus kita perhatikan, dan itu menjadi tanggung jawab bersama,” kata pengurus ULD BPBD NB, Sri Sukarni.
Selain kegiatan sosialisasi, peringatan HKB 2026 di NTB juga dimeriahkan dengan pameran literasi kebencanaan yang melibatkan berbagai komunitas. Pameran ini menampilkan beragam media edukasi, seperti buku, komik, poster, hingga permainan interaktif yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya anak-anak, tentang kebencanaan.
Pendekatan literasi dinilai efektif dalam menyampaikan pesan-pesan kesiapsiagaan secara lebih menarik dan mudah dipahami. Melalui media kreatif, masyarakat diajak untuk mengenali risiko di sekitarnya serta memahami langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi bencana.
Kegiatan sosial juga menjadi bagian tak terpisahkan dari peringatan ini, antara lain donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis. Kegiatan donor darah diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari aparatur sipil negara, relawan, hingga masyarakat umum. Sementara itu, layanan pemeriksaan kesehatan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memeriksa kondisi kesehatan mereka secara gratis, sebagai bagian dari upaya menjaga kesiapan fisik dalam menghadapi situasi darurat.
Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan ini terlihat dari tingginya partisipasi peserta di berbagai rangkaian acara. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesiapsiagaan bencana semakin meningkat. Gubernur NTB dalam penutupannya kembali mengingatkan bahwa upaya membangun budaya siaga tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan komitmen jangka panjang. Ia mengajak seluruh pihak untuk terus berkolaborasi dan berinovasi dalam menghadapi tantangan kebencanaan di masa depan.
“Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi pengingat bahwa kita harus selalu siap. Kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama, dan hanya dengan kerja sama kita dapat menciptakan masyarakat yang tangguh dan berdaya,” tutupnya.
Baca juga: Peringati HKB 2026, Gubernur Iqbal Ajak Masyarakat Tanamkan Budaya Siaga Bencana
Melalui peringatan HKB 2026 ini, Pemerintah Provinsi NTB berharap dapat terus mendorong peningkatan kapasitas masyarakat serta memperkuat sistem penanggulangan bencana yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Dengan demikian, risiko dan dampak bencana dapat diminimalkan, serta keselamatan masyarakat dapat lebih terjamin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Peringatan-Hari-Kesiapsiagaan-Bencana-HKB-2026-di-CFD-Udayana.jpg)