NTB

Di Antara Ogoh-Ogoh dan Takbir: NTB Menjaga Harmoni

Diskominfotik NTB
TOLERANSI - Suasana rapat koordinasi bersama Forkopimda NTB dan FKUB menyambut perayaan Idulfitri dan Nyepi tahun 2026. Gubernur NTB menekankan pentingnya menanamkan toleransi sebagai praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Oleh: Dr. H. Ahsanul Khalik

*Penulis merupakan Kadis Kominfotik NTB/Juru Bicara Pemprov NTB

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Tahun ini Nusa Tenggara Barat (NTB) menghadapi sebuah momentum yang tidak selalu terjadi setiap tahun: pawai ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi berdekatan waktunya dengan malam takbiran menyambut Idulfitri. Dua ekspresi keagamaan yang sangat berbeda, di mana satu dalam suasana hening perenungan, satu dalam gema takbir yang menggema, bertemu dalam ruang waktu yang hampir bersamaan.

Bagi sebagian daerah, situasi seperti ini mungkin menimbulkan kekhawatiran. Namun bagi masyarakat NTB, perjumpaan dua momentum keagamaan tersebut justru menjadi kesempatan untuk menunjukkan kedewasaan sosial dalam merawat toleransi. Di tengah keberagaman keyakinan yang hidup di masyarakat, masyarakat NTB telah lama terbiasa berbagi ruang sosial dengan penuh saling pengertian.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, yang akrab disapa Miq Iqbal, memandang pertemuan antara Nyepi dan Idulfitri ini bukan sekedar persoalan teknis pengaturan kegiatan keagamaan. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai cermin kedewasaan masyarakat dalam mengelola keberagaman.

Menurutnya, toleransi tidak cukup hanya dipahami sebagai sikap saling membiarkan satu sama lain menjalankan ibadah. Toleransi harus hadir dalam tindakan nyata di ruang publik, dalam cara masyarakat saling menghormati, menjaga ketertiban bersama, dan memastikan setiap umat dapat menjalankan ajaran agamanya dengan tenang.

Pandangan tersebut menjadi dasar bagi Pemerintah Provinsi NTB bersama unsur Forkopimda, pemerintah kabupaten/kota, tokoh agama, serta tokoh masyarakat untuk membangun kesepahaman bersama menjelang dua momentum keagamaan ini.

Melalui dialog dan koordinasi lintas sektor, berbagai langkah disiapkan agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan aman, tertib, dan tetap mencerminkan semangat kebersamaan.

Dalam berbagai pertemuan koordinasi, termasuk rapat bersama Forkopimda dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Gubernur  menekankan pentingnya menghadirkan contoh nyata toleransi dalam praktik kehidupan masyarakat.

Salah satu contoh yang disepakati adalah penghentian sementara musik atau sound system pada pawai ogoh-ogoh ketika waktu azan tiba sebagai bentuk penghormatan kepada umat Islam yang sedang menunaikan ibadah.

Sebaliknya, ketika pawai takbiran melintasi kawasan permukiman umat Hindu yang sedang menjalankan Catur Brata Penyepian, peserta takbiran juga diimbau untuk tidak menggunakan pengeras suara secara berlebihan.

Langkah-langkah sederhana seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi memiliki makna sosial yang sangat besar. Di sanalah toleransi tidak lagi menjadi sekedar wacana, melainkan hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Nyepi dan Takbiran Beririsan, Gubernur Iqbal Ajak Warga NTB Jaga Toleransi

Secara sosiologis, masyarakat NTB memang memiliki modal sosial yang kuat dalam menjaga kerukunan antarumat beragama.

Berbagai penelitian akademik menunjukkan bahwa harmoni sosial di daerah ini terbentuk melalui proses sosial yang panjang, didukung oleh kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu contoh yang sering dikutip adalah kehidupan masyarakat di Desa Lingsar, Lombok Barat, di mana komunitas Islam dan Hindu hidup berdampingan dengan penuh kebersamaan. Tradisi budaya seperti Perang Topat menjadi simbol kuat bagaimana agama dan budaya lokal dapat menjadi ruang pertemuan sosial yang memperkuat harmoni masyarakat.

Di NTB, hubungan antarumat beragama tidak hanya dibangun melalui ruang-ruang formal, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari, di pasar, di sekolah, dalam kegiatan sosial, bahkan dalam tradisi budaya yang diwariskan turun-temurun.

Kedekatan sosial seperti inilah yang menjadi fondasi penting bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang damai.

Namun di era digital saat ini, tantangan menjaga kerukunan tidak hanya datang dari peristiwa di lapangan. Arus informasi yang bergerak cepat di media sosial sering kali menghadirkan narasi yang tidak selalu mencerminkan kondisi nyata di daerah. Dinamika yang terjadi di tempat lain dapat dengan mudah memengaruhi persepsi masyarakat jika tidak disikapi secara bijak.

Karena itu, Gubernur Miq Iqbal mengajak seluruh elemen masyarakat untuk aktif membangun narasi positif tentang toleransi di NTB. Menurutnya, menjaga kerukunan tidak cukup hanya dilakukan oleh pemerintah atau aparat keamanan, tetapi membutuhkan partisipasi seluruh masyarakat.

Tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, serta komunitas sosial memiliki peran penting dalam menjaga suasana yang kondusif. Mereka menjadi jembatan komunikasi yang mampu menenangkan masyarakat ketika muncul berbagai isu yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Data Indeks Kerukunan Umat Beragama di NTB yang berada pada kategori tinggi menunjukkan bahwa masyarakat daerah ini sebenarnya memiliki fondasi sosial yang kuat dalam menjaga kehidupan yang harmonis. Nilai toleransi yang tinggi menjadi modal penting untuk terus memperkuat kebersamaan dan saling pengertian di tengah keberagaman.

Dalam pandangan Gubernur Miq Iqbal, kerukunan antarumat beragama merupakan salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki NTB. Di tengah dunia yang sering kali diwarnai konflik identitas dan perbedaan keyakinan, masyarakat NTB justru menunjukkan bahwa keberagaman dapat dikelola dengan penuh kedewasaan.

Perjumpaan antara Nyepi dan Idul Fitri tahun ini bukan sekedar persoalan jadwal kegiatan keagamaan. Ia adalah ujian sekaligus kesempatan bagi masyarakat NTB untuk menunjukkan bahwa toleransi bukan hanya nilai yang diajarkan, tetapi benar-benar hidup dalam praktik kehidupan sosial.

Ketika ogoh-ogoh dapat berjalan dengan meriah tanpa mengganggu kekhusyukan ibadah umat lain, dan gema takbir dapat berkumandang tanpa mengusik keheningan Nyepi, di situlah terlihat bahwa harmoni sosial bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan.

Sebagaimana disampaikan Gubernur NTB, kerukunan antarumat beragama di NTB adalah warisan sosial yang sangat berharga.

Warisan ini tidak hanya penting bagi kehidupan masyarakat hari ini, tetapi juga bagi masa depan generasi yang akan datang.

Di antara ogoh-ogoh dan takbir, masyarakat NTB sekali lagi menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus melahirkan jarak. Justru dari perbedaan itulah lahir kebersamaan yang memperkaya kehidupan bersama.

Dan dari NTB, kita belajar bahwa toleransi bukan sekedar konsep, melainkan cara hidup yang dijaga bersama.

(*)