NTB
Momen Bunda Sinta Membatik di Lapas Lombok Barat dengan Motif Sirkuit Mandalika
Penulis: Ahmad Wawan Sugandika | Editor: Wahyu Widiyantoro
Ringkasan Berita:
- Sinta memberikan apresiasi tinggi terhadap hasil karya kerajinan tangan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
- Dekranasda NTB berencana melibatkan hasil karya warga binaan dalam berbagai kegiatan resmi.
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT - Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sinta Agathia Soedjoko mengunjungi Lapas Lombok Barat, Jumat (13/2/2026).
Istri Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal itu menyempatkan diri membuat batik dengan motif sirkuit Mandalika yang memang menjadi andalan Lapas.
Tangan Sinta mengukur motif batik sirkuit dengan tinta yang terukir di kain putih yang telah disiapkan.
Sinta memberikan apresiasi tinggi terhadap hasil karya kerajinan tangan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
Dia mengagumi kualitas produk batik dan bidang konveksi yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh.
Baca juga: Momen Agus Buntung Iringi Kedatangan Ketua Dekranasda NTB di Lapas Lombok Barat
Produk batik hasil karya warga binaan mendapat pujian khusus karena motifnya yang dianggap berbeda dari batik umumnya.
Sinta menyebutkan bahwa kualitas produk tersebut sangat bagus dan memiliki ciri khas tersendiri.
"Ternyata memang bagus, unik. Saya harap teman-teman bisa meng-eksplore motif-motif yang ada di sini karena unik dan banyak yang tidak bisa kita jumpai di luar,” ucap Sinta.
Dekranasda NTB berencana melibatkan hasil karya warga binaan dalam berbagai kegiatan resmi.
Selain batik, bidang konveksi yang baru saja diluncurkan di Lapas juga menjadi perhatian untuk dikerjasamakan.
Mengenai pemasaran yang lebih luas, seperti penggunaan batik oleh Aparatur Sipil Negara (ASN), Sinta menjelaskan bahwa untuk saat ini pemanfaatannya masih diprioritaskan untuk kegiatan tertentu mengingat kapasitas produksi yang masih terbatas.
Saat ini, produk tersebut telah mulai digunakan secara rutin di lingkungan internal Kanwil Kemenkumham NTB.
“Harapannya semakin ke depan semakin banyak yang tahu, kemudian bisa kita arahkan untuk dipakai di momen-momen tertentu. Kalau untuk rutin seluruh ASN belum sanggup juga (produksinya) kayaknya,” pungkasnya.
Usaha Produktif Warga Binaan
Kepala Lapas Lombok Barat, M. Fadli, menjelaskan bahwa membatik di dalam lapas bukan sekadar program rehabilitasi, melainkan sudah berkembang menjadi usaha produktif dengan nilai ekonomi tinggi.
Batik yang dihasilkan tangan para warga binaan telah mampu bersaing di pasaran.
Setidaknya ada dua motif yang sudah dikenal luas, yaitu motif Sirkuit Mandalika dan motif Lumbung, khas Lombok.
“Motif tersebut telah didaftarkan hak ciptanya ke kementerian hukum,” kata Kalapas.
Proses pembuatan batik melibatkan 12 warga binaan, mulai dari menggambar pola, mencanting, pengeringan, hingga pemasaran.
Kegiatan ini telah berjalan sejak tahun 2022, dan kini produk batik Lapas Lombok Barat semakin diterima masyarakat.
“Waktu yang cukup banyak di dalam lapas memberi ruang aktualisasi kreativitas. Hasilnya, batik karya mereka memiliki kualitas baik dan nilai ekonomi tinggi,” tambahnya.
Agar produksi batik terus berlanjut, Lapas Lombok Barat rutin mendatangkan instruktur dari Pekalongan untuk memberikan pelatihan.
“Pelatihan diterima dengan antusias, dan nilai ekonomi dari produk diwujudkan dalam bentuk premi bagi warga binaan yang terlibat,” sebut Fadli.
Tidak hanya itu, pemasaran produk juga sudah memanfaatkan teknologi digital.
Batik karya warga binaan dapat dikirim langsung kepada keluarga maupun konsumen di luar lapas.
Bahkan, produk mereka ikut dipamerkan dalam ajang besar seperti MotoGP Mandalika dan dikenakan di lingkungan pemerintah daerah.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/sinta_batik_lapas_3938282jpg.jpg)