NTB
Membaca Utuh Pertumbuhan Ekonomi NTB 2025: Antara Lonjakan Triwulan dan Realitas Tahunan
Oleh: Dr H Ahsanul Khalik
Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi NTB
Perbedaan persepsi publik mengenai kondisi ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) berawal dari cara membaca rilis resmi Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat. Angka pertumbuhan 12,49 persen yang banyak beredar merupakan pertumbuhan Triwulan IV-2025 terhadap Triwulan IV-2024 (year-on-year/y-on-y), sedangkan angka 3,22 persen adalah pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2025 secara kumulatif (cumulative to cumulative/c-to-c).
Keduanya sama-sama benar, namun mengukur hal yang berbeda.
Dalam praktik analisis ekonomi regional, c-to-c merupakan indikator utama untuk menilai kinerja tahunan, karena mencerminkan akumulasi aktivitas ekonomi selama empat triwulan penuh. Dengan pendekatan ini, ekonomi NTB sepanjang 2025 tumbuh 3,22 persen.
Sementara itu, angka 12,49 persen mencerminkan lonjakan aktivitas ekonomi pada akhir tahun, terutama dipicu oleh meningkatnya produksi pertambangan dan mulai beroperasinya industri pengolahan berbasis hilirisasi. Angka ini menunjukkan momentum jangka pendek, bukan gambaran kinerja satu tahun penuh.
Dengan kata lain 12,49 persen menunjukkan percepatan di akhir 2025, sedangkan 3,22 persen menunjukkan rata-rata pertumbuhan ekonomi NTB sepanjang 2025.
Mengapa bisa tinggi di akhir tahun, tapi rendah secara tahunan? Seperti dianalisis Dr. Iwan Harsono dari Universitas Mataram, ekonomi NTB mengalami pelemahan pada Triwulan I dan II 2025, sebelum pulih pada paruh kedua tahun. Lonjakan di Triwulan IV memang signifikan, namun belum cukup kuat untuk menutup kontraksi awal tahun.
Baca juga: Ekonomi NTB Tumbuh, Kini Saatnya Menata Pemerataan
Hal ini mencerminkan struktur ekonomi NTB yang masih sangat bergantung pada sektor padat modal—terutama pertambangan dan industri pengolahan (smelter). Ketika sektor ini aktif, pertumbuhan melonjak tajam; namun ketika produksi melambat atau terjadi penyesuaian ekspor, dampaknya langsung menekan ekonomi daerah.
Akibatnya, pertumbuhan NTB cenderung bersifat “spike driven” tinggi pada momen tertentu, tetapi belum stabil sepanjang tahun.
Inilah penjelasan utama mengapa ekonomi NTB bisa tumbuh 12,49 persen pada satu triwulan, tetapi secara tahunan hanya mencapai 3,22 persen.
Apakah ini berarti pemerintah provinsi gagal? Tidak tepat jika dibaca demikian karena tahun 2025 merupakan fase transisi sekaligus tahap awal operasional industri hilirisasi.
Lonjakan pada akhir tahun justru menandakan bahwa kapasitas produksi mulai terbentuk. Namun daya sebar pertumbuhan ke sektor-sektor padat karya seperti pertanian, UMKM, pariwisata lokal, dan perdagangan belum optimal.
Artinya, yang terjadi bukan kegagalan kebijakan, melainkan fase awal transformasi struktur ekonomi. Hal ini juga menjelaskan mengapa, meski pertumbuhan tahunan masih moderat, indikator sosial justru membaik, kemiskinan menurun, pengangguran turun, dan pekerja formal meningkat.
Ini menunjukkan fondasi produktivitas mulai terbentuk, meski belum sepenuhnya tercermin dalam angka pertumbuhan agregat.
Target RPJMD 2026: Optimisme yang Realistis
Target pertumbuhan ekonomi NTB 2026 sebesar 6,83 persen memang ambisius jika hanya mengandalkan pertambangan dan industri pengolahan.
Karena itu, rilis BPS dan analisis ekonom memberi pesan yang sama: pertumbuhan ke depan harus diperluas basisnya.
Mesin cadangan pertumbuhan
Agar ekonomi NTB tetap tumbuh meski industri pengolahan tidak berjalan optimal pada 2026, pemerintah provinsi tentu akan menyiapkan mesin cadangan pertumbuhan.
Hal ini akan dilakukan melalui beberapa program, antara lain:
1. Penguatan Pertanian Bernilai Tambah
Bukan sekadar produksi primer, tetapi industrialisasi pertanian, hilirisasi pangan lokal, dan integrasi petani ke rantai nilai industri dan pariwisata.
2. Aktivasi Permintaan Domestik
Memperkuat perdagangan daerah, konsumsi rumah tangga, serta belanja pemerintah yang produktif agar ekonomi tidak sepenuhnya bergantung pada ekspor.
3. Pariwisata Berbasis Ekonomi Lokal
Fokus pada lama tinggal dan belanja wisatawan, dengan keterkaitan langsung ke UMKM.
4. Konektivitas Industri Besar dengan Ekonomi NTB
Mendorong penyerapan tenaga kerja lokal, tumbuhnya industri turunan, serta penggunaan input dari pelaku usaha daerah.
Dengan strategi ini, pertumbuhan NTB tidak lagi bergantung pada satu sektor volatil, tetapi ditopang oleh banyak sumber yang lebih stabil.
Terpenting adalah pertumbuhan 3,22 persen adalah potret kinerja ekonomi NTB sepanjang 2025 dan pertumbuhan 12,49 persen adalah tanda kebangkitan di akhir tahun. Keduanya bukan kontradiksi, melainkan dua sisi dari fase transisi ekonomi NTB.
Yang sedang berlangsung saat ini adalah pergeseran dari ekonomi berbasis ekstraksi menuju ekonomi berbasis pengolahan dan nilai tambah. Tantangan 2026 bukan sekedar mengejar angka 6,83 persen, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut konsisten, inklusif, dan menyentuh ekonomi rakyat.
Dengan koreksi kebijakan yang tepat, momentum akhir 2025 dapat menjadi fondasi untuk pertumbuhan yang lebih kuat dan berkelanjutan pada 2026.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Ekonomi-25-a.jpg)