Senin, 20 April 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Bahlil Jamin Harga BBM Subsidi Tidak Naik

Bahlil menegaskan bahwa kondisi pasokan energi nasional yang terjaga di atas standar minimum, mencakup solar, bensin, maupun LPG

TRIBUNLOMBOK.COM
HARGA BBM - Seorang pengendara masuk ke area Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pagesangan, Kota Mataram. Bahlil menegaskan bahwa kondisi pasokan energi nasional yang terjaga di atas standar minimum, mencakup solar, bensin, maupun LPG. 
Ringkasan Berita:
  • Bahlil menegaskan bahwa kondisi pasokan energi nasional yang terjaga di atas standar minimum, mencakup solar, bensin, maupun LPG.
  • Di sisi pasokan, pemerintah mengakui masih terdapat ketergantungan pada impor.

TRIBUNLOMBOK.COM - emerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026. 

Kepastian tersebut disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia usai menghadap Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jumat (17/4/2026), sebagai tindak lanjut arahan presiden pascakunjungan kenegaraan ke Rusia dan Prancis.

"Saya sampaikan kepada publik bahwa insya Allah stok kita di atas standar minimum, baik itu solar, bensin, maupun LPG. Insya Allah aman dan sekali lagi saya katakan bahwa kami sudah bersepakat atas arahan Bapak Presiden bahwa harga BBM untuk subsidi tidak akan dinaikkan sampai dengan akhir tahun." ujar Bahlil dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Jumat (17/4/2026).

Bahlil menegaskan bahwa kebijakan tersebut didukung oleh kondisi pasokan energi nasional yang terjaga di atas standar minimum, mencakup solar, bensin, maupun LPG. 

Baca juga: 8 Strategi Atasi Dampak Konflik Timur Tengah: WFH ASN, BBM 50 Liter Per Hari, Pemangkasan MBG

Dari sisi fiskal, ruang anggaran dinilai masih cukup kuat untuk menopang stabilitas harga BBM bersubsidi, mengingat harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) saat ini masih berada di bawah asumsi yang ditetapkan dalam APBN.

Bahlil merinci bahwa rata-rata ICP sejak Januari hingga pertengahan April 2026 tidak melampaui 77 dolar AS per barel, jauh di bawah batas aman fiskal sebesar 100 dolar AS per barel. 

Kondisi tersebut memberikan selisih atau buffer sekitar 7 dolar AS yang dinilai masih cukup aman bagi anggaran negara dalam menanggung beban subsidi.

"Doakan, ini kan tergantung dengan harga ICP. Namun, kalau sampai dengan 100 dollar As itu sudah aman dalam IBBM. Sekarang harga rata-rata ICP Januari sampai saat ini tidak lebih dari 77 dollar AS. Jadi, kita itu baru split 7 dollar AS," jelas Bahlil.

Di sisi pasokan, pemerintah mengakui masih terdapat ketergantungan pada impor. 

Konsumsi BBM nasional yang mencapai 1,6 juta barel per hari belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri yang baru berada di kisaran 600 hingga 610 ribu barel per hari, sehingga kebutuhan impor masih sekitar 1 juta barel per hari.

Untuk memperkuat ketahanan energi jangka panjang, pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan Rusia, tidak hanya dalam hal pasokan minyak mentah tetapi juga pada sektor infrastruktur energi. 

Bahlil menyebut terdapat pembahasan mengenai rencana investasi di bidang kilang dan fasilitas penyimpanan energi yang saat ini masih dalam tahap finalisasi.

"Itu salah satu poin yang kemarin kami bicarakan bahwa memang ada beberapa investasi mereka yang pick up. Sudah siap untuk masuk, tetapi finalisasinya tunggu ada 1-2 putaran lagi dengan kami, khusus untuk menyangkut dengan kilang dan storage. Nanti baru kami akan sampaikan," tutur Bahlil.

Dengan terjaganya stabilitas harga BBM bersubsidi, pemerintah berharap masyarakat dapat menjalankan aktivitas ekonomi dengan lebih tenang di tengah dinamika harga energi global yang terus berfluktuasi.

(*)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved