NTB
Dispar NTB Menilai Ritual Besembek Bisa Jadi Daya Tarik Wisata Rinjani
Penulis: Toni Hermawan | Editor: Laelatunniam
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Toni Hermawan
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR – Masyarakat lokal di kaki Gunung Rinjani menyimpan ritual atau prosesi permohonan izin sebelum mendaki gunung, yakni besembek atau betabek.
Dinas Pariwisata (Dispar) Nusa Tenggara Barat (NTB) menilai ritual besembek sebelum pendakian Gunung Rinjani dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Kabid Destinasi Dispar NTB, Candra Aprinova, meminta masyarakat dan pelaku wisata tetap menghormati budaya lokal, memperkenalkan, hingga melestarikannya.
Harapannya, budaya lokal seperti besembek dapat dikenal luas oleh wisatawan dan dijadikan sebagai bagian dari kegiatan sebelum pendakian.
“Termasuk sembek, kita usulkan jadi pemberdayaan masyarakat. Bagus untuk daya tarik wisata, bule ini senang hal seperti itu, kita bawa dia ke hal-hal mistis dan supranatural,” kata Candra saat berdiskusi dengan organisasi Mahasiswa dan Pemuda Pecinta Alam (Oasistala) Lombok Timur, Kamis (7/8/2025) sore.
Tidak hanya dari sisi budaya, Candra juga menyoroti pentingnya keselamatan pendaki. Ia menyarankan agar diputarkan video pendek mengenai situasi pendakian Gunung Rinjani sebagai gambaran bagi calon pendaki.
“Wisatawan diberikan briefing bahkan video pendek tentang situasi di atas, supaya mereka tidak asal-asal mau naik, jauhnya dari sini ke sini dan tingkat kecuraman juga dikasih tahu,” pintanya.
Ia melanjutkan, jika wisatawan belum memiliki pengalaman mendaki, sebaiknya terlebih dahulu dikenalkan dan dilatih melalui pendakian ke bukit-bukit di kawasan sekitar Gunung Rinjani, seperti Bukit Pergasingan atau Bukit Anak Dara.
“Dia juga lama tinggal di Sembalun dan masyarakat bisa memanfaatkan belanja mereka, tidak langsung kita kasih (mendaki Gunung Rinjani),” sambungnya.
Dari sisi keselamatan, lanjut Candra, hal tersebut juga sangat penting diperhatikan. Hal ini bisa dilakukan melalui penyediaan peralatan yang memadai untuk mencegah kecelakaan.
Ia menekankan bahwa para pemandu (guide) maupun porter wajib memiliki keterampilan pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan di gunung.
“Jika sampai terjadi kecelakaan, butuh standarisasi peralatan dan keterampilan pertolongan pertama sebelum tim medis datang,” ucapnya.
Untuk menjamin kenyamanan dalam pendakian, ia juga meminta agar aspek kebersihan serta perilaku para pelaku wisata turut diperhatikan.
“Perilaku kita harus bagus sama tamu, kita rata-rata anak gunung suka merokok, tapi tatkala kita mendampingi tamu apalagi perempuan dan anak-anak, diusahakan tidak merokok di samping mereka,” sarannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Pendaki-Gunung-Rinjani-menjalani-ritual-besembek_.jpg)