NTB

Kapan Bau Nyale 2025? Berikut Tanggal dan Penjelasannya

ISTIMEWA
Bau Nyale dilakukan warga Lombok Timur di Pantai Kaliantan Senin (21/2/2022) pagi. 

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Puncak perayaan tradisional Bau Nyale 2025 di Kabupaten Lombok Tengah telah ditetapkan akan berlangsung pada Selasa-Rabu, 18-19 Februari 2025 mendatang.

Kepastian ini diperoleh dari hasil Sangkep Warige, sebuah musyawarah adat yang digelar oleh Dinas Pariwisata Lombok Tengah pada Rabu, 11 Desember 2024, bertempat di Raja Hotel, Kuta, Mandalika.

“Hasil musyawarah Sangkep Warige yang dihadiri oleh empat Ketua Majelis Adat Sasak, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), serta tokoh-tokoh lainnya, menghasilkan keputusan bahwa Bau Nyale tahun 2025 jatuh pada tanggal 18-19 Februari, yakni Selasa malam hingga Rabu pagi,” ungkap Kadis Pariwisata Lombok Tengah, Lala Sungkul.

Penetapan Tanggal Berdasarkan Tradisi dan Tanda Alam

Masyarakat Suku Sasak Lombok saat turun mencari nyale hari ini Sabtu, (19/2/2022). Mereka biasanya mendapatkan banyak nyale air karena nyale hijau atau nyale paling bagus muncul pada malam puncak bau nyale yaitu tanggal 20-21 Februari 2022. (Tribunlombokcom/Sinto)
Masyarakat Suku Sasak Lombok saat turun mencari nyale hari ini Sabtu, (19/2/2022). Mereka biasanya mendapatkan banyak nyale air karena nyale hijau atau nyale paling bagus muncul pada malam puncak bau nyale yaitu tanggal 20-21 Februari 2022. (Tribunlombokcom/Sinto) ((Tribunlombokcom/Sinto))

Sangkep Warige dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk tokoh adat Gumi Tatas Tuhu Trasna, tokoh pemuda, perwakilan dari empat kecamatan di Lombok Tengah, tokoh masyarakat, serta pejabat pemerintah.

Proses penetapan tanggal ini mengacu pada tanda-tanda alam seperti bunyi tengkere (sejenis hewan laut), keberadaan bintang rowot, kalender tradisional Sasak, dan berbagai fenomena alam lainnya yang menjadi pedoman turun-temurun.

Sebelum pelaksanaan Sangkep Warige, diskusi awal dilakukan melalui Sangkep Madye. Sangkep ini menghimpun pendapat dari para pemuka adat Paer Pujut, baik dari wilayah Kecamatan Pujut maupun daerah lain seperti Lombok Timur.

Diskusi dalam Sangkep Madye berlangsung cukup alot karena mempertimbangkan kecocokan antara kalender Sasak, kalender Hijriah, dan kalender Masehi.

Penetapan tanggal Bau Nyale juga merujuk pada kisah Putri Mandalika yang meminta untuk dicari oleh para pangeran pada tanggal 20 bulan 10 dalam kalender Sasak.

Tradisi yang Sarat Makna

Bau Nyale, yang secara harfiah berarti “menangkap nyale” (cacing laut), merupakan tradisi tahunan masyarakat Sasak.

Perayaan ini terinspirasi oleh legenda Putri Mandalika, seorang putri yang rela mengorbankan dirinya demi persatuan dan kedamaian. Setiap tahun, masyarakat percaya bahwa nyale yang muncul di pantai-pantai Lombok merupakan jelmaan sang putri.

Selain sebagai ritual budaya, Bau Nyale juga menjadi momen penting untuk mempromosikan pariwisata Lombok Tengah, terutama kawasan Mandalika yang telah menjadi destinasi wisata internasional.

Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau untuk menjaga keamanan dan kelestarian tradisi ini.

Artikel ini telah tayang di TribunLombok.com dengan judul Resmi! Puncak Bau Nyale Tahun 2025 Jatuh pada Tanggal 18-19 Februari

(*)