NTB

Nelayan di Pulau Maringkik Lombok Timur Bertahan Hidup Dengan Air Seadanya

TRIBUNLOMBOK.COM/AHMAD WAWAN SUGANDIKA
Eka Nuri (30), ibu rumah tangga di Pulau Maringkik menampung air dengan ember. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Masyarakat nelayan yang berdiam di Pulau Maringkik, Kecamatan Keruak, Lombok Timur, umumnya bertahan hidup di musim kemarau dengan stok air bersih seadanya.

Pulau seluas sekira 6 hektare itu didiami sekira 2 ribu jiwa. Pada musim kemarau air bersih dari saluran PDAM hanya dijatahkan 6 ember untuk satu Kepala Keluarga (KK) untuk kebutuhan beberapa pekan.

Baca juga: Warga Pulau Maringkik Minim Akses Kesehatan, Lazah NW Salurkan Bantuan Pengobatan

Mau tidak mau masyarakat harus berhemat air. Hal tersebut diungkapkan Samtiadi (42), warga Pulau Maringkik.

"Ya begitulah pak, bukan hanya musim kemarau saja tapi setiap bulan, air bagi kami lebih berharga dari apapun disini," ucapnya saat ditemui TribunLombok.com, Sabtu (30/9/2023).

Samtiadi mengatakan, masyarakat setempat memiliki cara sendiri untuk menghemat air bersih.

"Air bersih cuma dipakeai minum sama masak saja pak, kalau mandi dan lainnya kan ada air pantai," ujarnya.

Warga Pulau Maringkik, Lombok Timur, Samtiadi (42) memperbaiki jaring jalanya.
Warga Pulau Maringkik, Lombok Timur, Samtiadi (42) memperbaiki jaring jalanya. (TRIBUNLOMBOK.COM/AHMAD WAWAN SUGANDIKA)

Hal senada disampaikan Eka Nuri (30), seorang ibu rumah tangga di Pulau Maringkik.

Ia menyebut jatah air semakin sedikit yang diterima masyarakat setempat belakangan ini.

"Kalau tahun kemarin bisa kita dapat 10 ember tapi sekarang kadang 2 kadang 6 ember, tergantung (ketersediaan) airnya," kata Eka Nuri.

Hal itu membuatnya cukup kerepotan, mengingat kebutuhan akan air semakin meningkat.

"Untuk mencuci kan kita perlu air bersih, ndak bisa kita pakai air pantai dong, rusak nanti pakaiannya," jelasnya.

Apalagi untuk warga yang sedang membangun rumah. Kebutuhan air bisa sampai dua kali lipat. Sebab tidak mungkin mencampurkan bahan bangunan menggunakan air laut. (*)