NTB

Karang Taruna Kelurahan Pane Sukses Budidayakan Jamur Tiram dan Serap Tenaga Kerja

DOK ISTIMEWA
Budidayakan Jamur Tiram Karang Taruna Kelurahan Pane. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Atina

TRIBUNLOMBOK.COM, KOTA BIMA - Lapangan pekerjaan menjadi persoalan khas dari sebuah perkotaan.

Kota Bima pun, memiliki masalah yang sama yakni lapangan pekerjaan yang sedikit, sedangkan sumber daya manusia banyak.

Namun sekelompok pemuda sukses menciptakan lapangan pekerjaannya sendiri, hingga mampu mendulang puluhan juta per bulan.

Tergabung dalam Karang Taruna Kelurahan Pane, belasan pemuda setiap hari berjibaku dengan serbuk kayu, dedak dan kapur.

Baca juga: Elektabilitas Naik Pasca Kunjungan Anies Baswedan, Nasdem Kota Bima Incar Kursi Pimpinan Dewan

Ketiga material tersebut, merupakan bahan dasar untuk membudidayakan jamur tiram.

Ketua Karang Taruna Pane, Mahrun mengungkap, ia bersama 17 pemuda lain di kelurahan tersebut sudah merintis usaha sejak 2019 lalu.

Pandemi Covid-19 membuat mereka terdesak, hingga akhirnya mengambil langkah besar dengan mulai budidaya jamur tiram.

"Awalnya kami disokong sebuah NGO, yang bergerak di bidang pertanian. Kami diberikan modal dan dibina sampai mandiri," cerita Mahrun.

Baca juga: Safari Ramadan, Pemerintahan Kota Bima Beberkan Capaian Kerja Wali Kota dan Wakil Wali Kota

Berkat konsistensi dan keuletan anggota, budidaya jamur tiram yang dijalani terus berkembang saat ini.

Menurut Mahrun, saat itu ada beberapa kelompok budidaya jamur tiram yang dibentuk NGO tersebut.

Namun kini hanya kelompok Karang Taruna Pane yang mampu bertahan, hingga terus berkreasi dengan jenis jamur yang dibudidayakan.

Pada awal dibentuk, kelompok ini hanya memiliki 12 anggota saja.

Tapi ini terus bertambah, hingga 18 orang yang sama-sama berkomitmen untuk menghasilkan produk jamur terbaik sehingga mampu bersaing di pasar.

"Sekarang kami sedang budidaya jamur coklat, saat ini kami satu-satunya yang produksi di Bima," aku Mahrun.

Ia mengaku, mendapatkan pelajaran dari petani budidaya jamur tiram di Pulau Lombok yang sudah lebih awal mengembangkan jamur tiram coklat.

Pasca produksi bulan lalu, permintaan pasar terhadap jamur tiram coklat sangat tinggi.

Bahkan kini Karang Taruna Pane kesulitan memenuhi permintaan pasar, akibat keterbatasan alat budidaya yang dimiliki.

Berbicara keuntungan, Mahrun menyebutkan, dalam 6000 baglok atau media tanam, bisa menghasilkan Rp12 juta per bulan.

Dengan hasil panen tersebut, maka Mahrun membagi hasilnya dengan seluruh anggota yang bekerja, sesuai dengan kinerja masing-masing.

"Alhamdulillah kami bertahan sejauh ini. Hanya saja tantangannya kalau bahan baku dedak naik, pada saat musim paceklik. Kami harus berpikir keras, karena menaikan harga atau kurangi jumlah tidak mungkin," kata Mahrun.

Dengan kendala yang dihadapi tersebut, Mahrun sangat berharap ada intervensi dari Pemerintah Kota Bima untuk kelompoknya.

Menurutnya, sejauh ini pihaknya sama sekali tidak mendapatkan lirikan dari pemerintah, baik berupa bantuan atau pun pembinaan skill.

Padahal tambah Mahrun, ada pekerja yang bisa diserap dari aktivitas budidaya jamur tiram tersebut, sehingga tugas pemerintah sudah dibantu.

"Jangankan berikan bantuan, nengok saja tidak ada sama sekali, terutama dari Dinas Pertanian," pungkasnya.

 

Bergabung dengan Grup Telegram TribunLombok.com untuk update informasi terkini: https://t.me/tribunlombok.