Viral Konten Live TikTok Mandi Lumpur, Dinas Sosial NTB: Jangan Salahkan Mereka

masyarakat diminta lebih bijak dalam mencari materi tanpa harus mengorbankan norma di masyarakat apalagi menjadi konsumsi media sosial

Penulis: Jimmy Sucipto | Editor: Wahyu Widiyantoro
(Kompas.com/Idham Khalid)
Seorang pemeran nenek mandi lumpur di Lombok Tengah sedang bersiap live TikTok, Kamis (19/1/2023). masyarakat diminta lebih bijak dalam mencari materi tanpa harus mengorbankan norma di masyarakat apalagi menjadi konsumsi media sosial. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Jimmy Sucipto

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Konten live TikTok nenek mandi lumpur di Lombok Tengah memicu beragam reaksi.

Mulai dari yang mengecam karena dipandang ngemis online hingga yang mendukung dengan alasan hak setiap orang mencari rezeki.

Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB, Ahsanul Khalik mengimbau masyarakat agar tidak menyalahkan para nenek yang menjadi pemeran mandi lumpur.

Seorang pemeran Layar Sari (50) mengaku meminta dirinya dilibatkan dalam konten itu karena tergiur bagi hasil.

"Masyarakat jangan salahkan mereka karena ini adalah kesalahan kita bersama, terutama pemerintah. Terpenting sekarang bagaimana kita memberikan perhatian kepada mereka," kata Ahsanul saat ditemui TribunLombok.com, Jumat (20/1/2023).

Baca juga: Viral Live TikTok Mandi Lumpur, Dinas Sosial NTB Berdayakan Pemilik Akun dan Pemeran Konten

Ahsanul mengimbau masyarakat lebih bijak dalam mencari materi.

"Agama tidak membenarkan hal seperti ini, tetapi kita berikan pemahaman agar lebih bijak mencari materi, untuk tidak menghilangkan norma harkat, martabat dan sosial kemanusiaan," jelas Ahsanul.

Pihaknya kini sedang fokus untuk memberikan pemahaman kepada para korban untuk lebih bijak dalam mencari materi dan bermedia sosial.

Dinas Sosial Provinsi NTB telah menerjunkan beberapa tim ke lokasi tempat live TikTok nenek mandi lumpur di Desa Setanggor, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah.

Tim bertugas untuk menjaga psikologis dari para korban, dan mengembalikan fungsi sosial di masyarakat.

Begitu juga tim pemberdayaan manusia, untuk menggantikan mata pencaharian para korban, yang sebelumnya telah bersepakat untuk dihentikan akibat gaduhnya di medsos maupun di masyarakat.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved