Berita Komunitas

Kolaborasi Warga Mataram Bahas Film Jamal, Gambaran Kehidupan Migran Asal Lombok

Anas Amrullah mengatakan, pegiat-pegiat film mesti menyiapkan sesuatu yang di luar proses produksi.

DOK KWM
Kolaborasi Warga Mataram Bahas Film Jamal, Gambaran Kehidupan Migran Asal Lombok - Peserta Kolaborasi Warga Mataram berfoto bersama setelah selesai membahas film Jamal karya Sutradara Heri (baju hitam/kaus jamal), Jumat (9/12/2022). 

TRIBUNLOMBOK.COM - Kolaborasi Warga Mataram yang diinisiasi oleh Paerstud dan Hibi Kohi menggagas sesi diskusi Realitas Sinema sekaligus menonton bersama film "Jamal" karya Heri Fadli, pada Jumat, (9/12/2022) di Hibi Kohi, Kota Mataram.

Sesi diskusi tersebut kemudian menyisakan narasi bahwa film atau produk serta karya berbasis industri kreatif memang telah layak dimonetisasi.

Wakil Ketua Bidang UMKM, Koperasi dan Ekonomi Kreatif Kamar Dagang Indonesia (Kadin) NTB, Anas Amrullah mengatakan, pegiat-pegiat film mesti menyiapkan sesuatu yang di luar proses produksi.

Misalnya distribusi dan pemasaran film-film yang telah diproduksi. Ia mengajak para sineas untuk memikirkan solusi agar film-film yang telah diproduksi dapat dikonsumsi oleh banyak orang.

Baca juga: Kolaborasi Warga Mataram Gelar Diskusi Tentang Narasi dan Pemasaran Digital

"Pulau Lombok sangat memiliki talenta untuk terus berkembang dalam sektor industri kreatif. Namun, pihak pemerintah hanya baru menengok tiga dari 17 sub sektor industri kreatif, yaitu kuliner, fesyen, dan kerajinan."

"Padahal, film, musik, seni pertunjukan, fotografi, dan videografi sudah sangat mungkin untuk terus dikembangkan," ujar Anas.

Oleh karena itu, Anas menelankan agar pelaku-pelaku industri kreatif mesti mengenalkan produk-produknya kepada khalayak umum.

Namun, tidak dapat ditampik bahwasannya mengenalkan produk-produk industri kreatif yang kurang diperhatikan oleh pemerintah memanglah sulit.

Baca juga: Rilis Buku Akarpohon Mataram: Pulang Vakansi karya Ruhma Ruksalana, Pengalaman Empiris dan Visual

Anas menyarankan agar para sineas dan pelaku-pelaku industri kreatif mesti lebih giat lagi dalam bekerja.

Menurutnya, ekosistem kreatif di Pulau Lombok memang tengah dibangun.

Harus diketahui bahwa terdapat lima pilar ekosistem kreatif, yaitu pemerintah, pelaku kreatif, akademisi, komunitas, dan media.

Setelah ekosistem terbangun kemudian terbentuk, Anas meyakini bahwa permintaan akan produk-produk industri kreatif perlahan-lahan pasti meningkat.

Sementara itu, Penulis, Sutradara, dan Director of Photography Film Jamal, Heri Fadli mengatakan, tugas dari para pembuat film bukan hanya untuk membuat film belaka, melainkan mengedukasi penonton dengan memberikan tontonan-tontonan yang penuh dengan nutrisi baik.

"Marilah membuat dan menonton film yang bukan hanya sekadar untuk membuat orang untuk tertawa," ajak Heri.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved