Berita Kota Bima

Diduga Terlibat Aksi Penganiayaan, Lima Siswi di Kota Bima Dilaporkan ke Polisi

Sedangkan terduga pelaku penganiayaan, berjumlah 5 orang berasal dari kelas yang berbeda tapi sama-sama pada jenjang kelas X.

Penulis: Atina | Editor: Robbyan Abel Ramdhon
WorldofBuzz via Tribunnews
Diduga Terlibat Aksi Penganiayaan, Lima Siswi di Kota Bima Dilaporkan ke Polisi - Ilustrasi bullying. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Atina

TRIBUNLOMBOK.COM, KOTA BIMA - Peristiwa penganiayaan terjadi di sebuah SMA Negeri di Kota Bima. Pelaku dan korban penganiayaan, sama-sama berasal dari satu sekolah yang sama tapi berbeda kelas. 

Korban merupakan siswi kelas X2 (sepuluh dua), berusia 15 tahun asal Kecamatan Mpunda

Sedangkan terduga pelaku penganiayaan, berjumlah 5 orang berasal dari kelas yang berbeda tapi sama-sama pada jenjang kelas X. 

Kelimanya pun berusia 15 tahun, ada yang berasal dari Kecamatan Asakota, Kecamatan Rasanae Timur, Rasanae Barat dan Kecamatan Raba. 

Baca juga: Sakit Hati, Anak Tega Racuni Keluarga di Magelang Hingga Tewas, Sempat Pura-pura Tolong Para Korban

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Bima, Juhriati yang ditemui wartawan mengaku, saat ini pihaknya sedang mendampingi kasus dugaan penganiayaan yang diduga dilakukan oleh 5 orang siswi SMA. 

"Kemarin laporannya masuk Unit PPA Polres Bima Kota dan langsung kami dampingi," kata Juhriati, Selasa (29/11/2022). 

Dari keterangan keluarga korban, awalnya korban didatangi kelima pelaku lantaran menerima informasi, korban sering menyebut para pelaku dengan sebutan yang tak pantas. 

"Jadi lima siswi ini dapat cerita, kalau korban sering sebut mereka dengan sebutan yang tidak pantas (menyebut kata)," ungkap Juhriati. 

Baca juga: Penganiayaan Santri Gontor: Dada Korban Ditendang, Autopsi Digelar Tertutup dan Respons Hotman Paris

Tidak terima, kelima siswi tersebut langsung menemui korban dan memukul kepala korban dengan kepalan tangan. 

Sempat dilerai oleh siswa lain, kelima siswi kemudian mengajak korban ke dalam kelas dan kembali lakukan penganiayaan. 

Akibatnya, kata Juhriati, korban mengalami benjolan pada bagian atas pelipis kiri, luka cakar pada dahi atas dan rambut rontok akibat jambakan. 

Saat ini LPA melakukan pendampingan pada korban, termasuk assasmen kasus tersebut. 

"Korban sudah lakukan visum dan saat ini sedang beristirahat di rumah. Korban juga mengaku trauma," tandasnya. 

Dikonfirmasi terpisah, Kepala SMAN 4 Kota Bima Hj Maryatun membenarkan adanya insiden perkelahian siswinya tersebut. 

"Tapi saat kejadian saya tidak ada di sekolah, sedang hadiri acara HUT PGRI," ujarnya. 

Saat pulang dan kembali ke sekolah, Maryatun mengaku langsung mendapatkan laporan dari guru-guru tentang perkelahian tersebut. 

"Kejadiannya itu Senin kemarin, saat jam istirahat," katanya. 

Pada hari yang sama, guru Bimbingan Konseling (BK) langsung memanggil keenam siswi yang terlibat perkelahian. 

Namun belum selesai ditangani oleh guru BK, keluarga korban mendatangi sekolah dan langsung membawa korban. 

"Pagi ini kami agendakan lagi pertemuan, antara orang tua lima siswi yang diduga menganiaya dan orang tua korban. Tapi orang tua korban tidak hadir," ungkapnya. 

Maryatun berharap, masalah ini bisa diselesaikan terlebih dahulu di internal sekolah karena terduga pelaku dan korban, sama-sama masih remaja. 

"Kita berharap bisa diselesaikan di dalam sekolah dulu. Kejadian di sekolah, kita dampingi sama-sama anak-anak kita," pungkasnya.

 

Bergabung dengan Grup Telegram TribunLombok.com untuk update informasi terkini: https://t.me/tribunlombok.

Sumber: Tribun Lombok
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved