Breaking News:

Berita Politik NTB

Jelang Pemilu 2024, Pengamat Politik Ingatkan Publik Tak Terbuai Hasil Survei

Lembaga Kajian Sosial Politik Mi6 menilai keberadaan berbagai Lembaga survey sebatas entertain politik semata.

Penulis: Lalu Helmi | Editor: Robbyan Abel Ramdhon
Dok. Istimewa
Jelang Pemilu 2024, Pengamat Politik Ingatkan Publik Tak Terbuai Hasil Survei - Direktur lembaga kajin sosial dan politik Mi6 Bambang Mei Finarwanto. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Lalu Helmi

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Lembaga Kajian Sosial Politik Mi6 menilai keberadaan berbagai Lembaga survei sebatas entertain politik semata.

Menurut Mi6, lembaga survei juga dihadirkan guna menyemarakkan  konstestasi pesta demokrasi,  khususnya menjelang gelaran Pilpres maupun Pilkada serentak 2024.

Publik diharapkan tidak mudah hanyut oleh pesona beragam publikasi media yang dilakukan lembaga survei terhadap paslon/kandidat. Sebab ia bukan mencerminkan perolehan suara di TPS.

Sebagai alat untuk melihat agregasi tingkat elektabilitas, keberterimaan ataupun popularitas, hasil kajian dan analisis lembaga survei bisa dijadikan pegangan maupun second opini dalam menilai peta kekuatan politik maupun kecendrungan persepsi publik.

Baca juga: Suvei Litbang Kompas: Ridwan Kamil Calon Wapres Terkuat, Unggul Atas Sandiaga Uno dan AHY

"Hasil kajian lembaga survei tidak boleh dianggap kepastian kemenangan," kata Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, pada Kamis (3/11/2022).

Selanjutnya lelaki yang akrab disapa Didu itu menambahkan,  mengapa kemudian dalam pengambilan sample responden setiap lembaga survei selalu menyebutkan durasi waktu, metodologi  maupun jumlah responden.

Ia menjelaskan, karena hal tersebut menyangkut persepsi responden pada saat dilakukan survei.

"Mangkanya kenapa lembaga survei harus melakukan survei berkali-kali dalam rentang waktu tertentu , hal ini untuk mengukur cerminan."

Baca juga: Pilpres 2024: Adu Unggul Elektabilitas Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto

"Misalnya pergeseran/ migrasi dukungan persepsi terhadap paslon tertentu pada waktu dilakukan survei tersebut," lanjut Didu.

Lebih lanjut Didu mengatakan keberadaan lembaga survei dalam kontestasi politik hal yang lumrah. 

Artinya tidak perlu diperdebatkan, apalagi menyangkutkan hasil analisis maupun hipotesa karena itu kajiannya empirik akademik yang bisa dipertanggungjawabkan secara metodologi.

"Sekarang tergantung publik  menyikapi beragam hasil survei, misalnya soal pilpres, mana figur yang bisa dipercaya atau sekedar pencitraan semata," tandas didu

Polling Sebagai Antitesa Survei Politik

Halaman
12
Sumber: Tribun Lombok
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved