Berita Viral

Viral Wisatawan Kena Catcalling di Gili Trawangan, Penyedia Jasa: Pelaku Harus Diusut Tuntas

Menanggapi kejadian tersebut, Nyi Ayu Yunita Maharani selaku penyedia jasa wisata di Gili Trawangan sangat menyayangkan kejadian tersebut.

Dok.Istimewa
Kloase tangkapan layar video pemilik akun Tiktok Mia Eastiana saat menyampaikan keluhan usai berkunjung ke Gili Trawangan melalui media sosial. - Kloase tangkapan layar video pemilik akun Tiktok Mia Eastiana saat menyampaikan keluhan usai berkunjung ke Gili Trawangan melalui media sosial. Video ini kemudian viral. 

Laporan Wartawan Tribunlombok.com Lalu M Gitan Prahana

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK UTARA - TikToker Mia Eastiana sempat viral karena mengunggah video curhatannya berwisata ke Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara.

Dalam video itu, Mia Eastiani mengaku mengeluh dan protes atas catcalling atau street harrasment atau pelecehan yang dialaminya saat berlibur di salah satu destinasi terbaik Lombok Utara itu.

Ia mengungkapkan, dirinya tidak dihargai sebagai wisatawan lokal oleh penyedia layanan pariwisata.

Bahkan secara tiba-tiba, dirinya diminta biaya tambahan penginapan, hingga harga barang yang sangat mahal.

Baca juga: VIRAL Wisatawan Gili Trawangan Mengaku Dilecehkan, Dispar NTB Lakukan Pembenahan

Menanggapi kejadian tersebut, Nyi Ayu Yunita Maharani selaku penyedia jasa wisata di Gili Trawangan sangat menyayangkan kejadian tersebut.

Bahkan dirinya berharap agar pelaku segera diusut, mengingat hal itu sangat merusak citra gili.

"Karena faktanya catcalling termasuk kekerasan seksual nonfisik yang tercatat UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TKPS)," ujarnya Sabtu (17/9/2022).

"Bahkan pelakunya dapat dipidana," tegasnya lagi.

Baca juga: Warga Dapat HGB Kelola Aset Gili Trawangan, Menteri ATR/BPN Minta Lahan Dimanfaatkan Maksimal

Selain itu, ia menuturkan bahwa alasan lain bisa jadi karena SDM yang kurang berkualitas untuk bisa memahami tentang etika dasar dan kebiasaan menormalisasi.

"Padahal, puncak dari hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah saling menghargai," lanjut Nyi Ayu Yunita Maharani.

"Namun apapun alasannya, pada akhirnya setiap orang memiliki kebebasan berekspresi dan berpendapat, sebab korban tetaplah korban, sehingga alangkah lebih baiknya diusut dari sudut pandang korban terlebih dahulu sehingga memberi efek jera pelaku," pungkasnya.

Sumber: Tribun Lombok
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved