Bagaimana Hukum Menceritakan Mimpi Basah kepada Orang Lain?

Mimpi basah menandai dimulainya kewajiban laki-laki menjalankan syariat Islam, apa yang harus dilakukan saat mengalami mimpi basah?

pexels.com
Ilustrasi pria tidur. Simak penjelasan hukum menceritakan mimpi basah kepada orang lain. 

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Simak penjelasan hukum menceritakan mimpi basah kepada orang lain.

Dalam bahasa Arab, mimpi basah yang merupakan reaksi hormonal tubuh ini disebut sebagai al-ihtilam.

Peristiwa saat tidur ini disebut mimpi basah karena pada saat bangun, orang yang bermimpi ini mendapati celananya basah oleh air mani.

Dalam Islam, dikutip dari laman Bimas Islam, mimpi basah ini menjadi salah satu indikator laki-laki dianggap sudah dewasa.

Baca juga: Bagaimana Hukum Mimpi Basah di Siang Hari Saat Ramadhan? Apakah Puasa Batal? Simak Penjelasannya

Hal itu sekaligus menandai kewajibannya melaksanakan syariat Islam.

Dalam kajian hukum Islam biasa dikenal dengan istilah tanda-tanda baligh.

Rasulullah Saw. bersabda:

Pena Allah diangkat dari tiga perkara: dari orang yang tidur sampai terbangunnya, dari anak sampai mimpi basah (yahtalima, ihtilam), dan dari orang gila sampai masa sembuhnya.

Dalam hadis tersebut Rasulullah menjelaskan bahwa hukum Allah tidak berlaku bagi tiga jenis orang di atas.

Salah satunya adalah bagi anak kecil sampai ia dewasa.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Lombok
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved