NTB

Negara Penyumbang Remitansi PMI NTB Terbesar Bukan Malaysia Tapi Negara Timur Tengah Ini

TRIBUNLOMBOK.COM/LALU HELMI
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Wahyudin tengah menjelaskan tentang remitansi PMI NTB 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Lalu Helmi

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Arab Saudi menjadi negara penyumbang remitansi terbesar Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke NTB.

Padahal, jumlah PMI NTB di Arab Saudi tak sebesar ke Malaysia tapi bisa melakukan pengiriman uang dari luar negeri lebih banyak.

Hingga pertengahan tahun 2022, capaian remitansi PMI NTB tercatat sebanyak Rp 413,38 miliar.

Meski peminat PMI asal NTB ke negara Malaysia lebih besar, namun data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat remitansi yang masuk ke provinsi ini di triwulan I 2022 dari negeri jiran itu sebesar Rp 156 miliar.

Baca juga: Kepala BPS: NTB Berpotensi Alami inflasi Dua Digit di Akhir Tahun

Dengan rincian pengiriman dari perbankan sebanyak Rp 72 miliar dan melalui PT Pos Indonesia sebesar Rp 84 miliar.

“Triwulan II 2022 itu remintasi atau penerimaan PMI NTB yang masuk melalui perbankan Rp 70 miliar, sedangkan dari PT Pos Indonesia sebesar Rp 186 miliar,” ujar Kepala BPS NTB Wahyuddin Rabu, (3/8/2022).

Total penerimaan remitansi dari PMI NTB melalui perbankan yang tercatat di Bank Indonesia (BI) sebesar Rp 142 miliar.

Sedangkan melalui PT Pos sebesar Rp 270 miliar.

Data penerimaan remitansi PMI NTB berdasarkan data BI:

1. Arab Saudi Rp 12 miliar atau 57,30 persen

2. Uni Emirate Arab sebesar Rp 4,1 miliar atau 19,06 persen

3. Jepang sebesar Rp 169 juta atau 0,77 persen.

4. Malaysia sebesar Rp 79 juta atau 0,36 persen.

5. Singapore mencapai Rp 44 juta atau 0,20 persen

6. Qatar sebesar Rp 29 juta atau 0,13 persen.

7. Negara-negara lainnya Rp 4 miliar atau 22,18 persen.

Baca juga: BPS NTB Turun Kaji Dampak MXGP Samota 2022 bagi Perekonomi Daerah

Dari data PT Pos Indonesia, berdasarkan kabupaten/kota paling banyak menerima remitansi ini adalah Lombok Tengah dengan nilai Rp 14 miliar, disusul Sumbawa sebesar Rp11,9 miliar, Lombok Timur sebesat Rp 11,1 miliar dan paling kecil dari kabupaten Bima senilai Rp 575 juta.

Diakui Wahyuddin, penerimaan remintasi dari PMI asal NTB memang lebih banyak dari negera Arab Saudi, meskipun penempatan PMI ke Arab Saudi tidak sebanyak ke Malaysia.

“Banyak yang memang ke Malaysia, tapi yang Malaysia umumnya mereka tidak langsung mengirimi ke kampungnya masing-masing karena kadang-kadang mereka sekali-kali bisa pulang karena dekat. Apalagi ada penerbangan langsung Kuala Lumpur ke Lombok,” jelasnya.

Artinya, kata Wahyudin, para PMI NTB di Malaysia ini bisa setiap saat datang dan juga membawa uang hasil kerja mereka dan tidak perlu mengirim menggunakan bank atau pos.

Namun tidak sedikit PMI juga mengirim via bank dan pos.

“Kenapa dia (Malaysia, red) kecil? Yang mungkin perbandingan dari sisi penghasilan di Malaysia dan Arab Saudi beda,” tandasnya.

(*)