Kapal PMI asal NTB Tenggelam

PMI Asal Lombok Ungkap Perjalanan ke Malaysia: Kami Diperlakukan seperti Pelaku Kejahatan

Menurut Denin, kapal yang mengangkut PMIseharusnya bermuatan 15 orang namun diisi lebih dari 30 penumpang.

Editor: Dion DB Putra
TRIBUN BATAM
Proses penyerahan PMI korban kapal yang selamat dari TNI AL ke BP2MI Kepri, Jumat (17/6/2022) lalu. 

TRIBUNLOMBOK.COM, BATAM - Denin (21), calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Lombok, korban kapal tenggelam di perairan Nongsa, mengungkap kisah pilu perjalanan mereka menuju Malaysia.

Denin dan rekan-rekannya diperlakukan idak manusiawi.

Menurut Denin, kapal yang mengangkut PMIseharusnya bermuatan 15 orang namun diisi lebih dari 30 penumpang.

Baca juga: Polisi Singapura Temukan Jasad PMI asal Lombok Tengah Lalu Ahmat Sapii alias Mat

Baca juga: Enam PMI Korban Kapal Tenggelam di Batam Masih Hilang, Jasad Warga Lombok Ditemukan Polisi Singapura

“Kami disuruh cepat masuk ke dalam kapal, disuruh merunduk, membungkuk, tidak ada jarak di antara kami, semua saling berdesak-desakan dalam kapal,” ujar Denin saat ditemui Tribun Batam di Selter BP2MI Kepri, Rabu (22/6/2022).

Menurut Denin, selain perlakuan tak layak di dalam kapal, rombongan PMI asal Lombok pun dibuat seperti sekelompok pelaku kejahatan.

“Seperti tersangka kejahatan gitu,” kata Denin menceritakan pengalamannya sebelum kapal yang ditumpangi 30 PMI terbalik di perairan Pulau Putri, Nongsa, Batam, Jumat (16/6/2022) malam.

"Banyak yang aneh menurut kami. Pertama, setiap kami dijanjikan akan bekerja di Malaysia dan mendapat upah. Nah, kami pun diminta untuk membayar uang, katanya untuk biaya transportasi dan pengurusan sampai ke Malaysia," ujarnya.

"Kami berangkat dari Lombok ke Batam. Sampai di Batam, kami tidak diberi kontak yang bisa kami hubungi di Batam. Katanya sudah ada yang jemput di bandara Batam."

“Kami berangkat dari Lombok siang, transit di Jakarta baru lanjut ke Batam. Sampai di Batam, kan malam. Ada yang jemput, jadi langsung masuk ke mobil dan dibawa ke penampungan. Penampungan ini kami gak tahu di mana, sebab kami sampai malam, gelap,” ujar Denin.

Menurut Denin, mereka diinapkan dua hari di penampungan. "Kami tak boleh keluar rumah, sampai menunggu PMI lainnya. Jumat (16/6/2022) malam sekira 19.30 WIB kami diangkut pakai mobil pribadi langsung dibawa ke tepi laut."

“Saya gak tau itu di mana. Tapi banyak pohon kelapa dan langsung pinggir laut. Di situ hanya ada dua orang laki-laki, tekong dan ABK kapal yang kami jumpai,” kata Denin.

"Pas kami diturunkan dari mobil, satu rombongan kami 8 orang, ada saya, Amat, Muhammad Sohir Abas, Yusuf, Arum, Ahmat Sapii (tidak selamat). Kami langsung disuruh cepat cepat masuk kapal."

“Cepat masuk. Baris rapat, langsung menundukkan kepala,” kata Denin mencontohkan ucapan tekong kapal malam itu.

"Tak berlama-lama, kami PMI sudah ada 30 orang kapal pun langsung berangkat.
Berlayar kurang lebih 30 menit, kapal yang kami tumpangi pun mati mesin.
Di tengah laut, gelombang disertai angin kencang pun menghantam kapal."

Halaman
12
Sumber: Tribun Batam
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved