Berita Malaysia

Industri Kelapa Sawit Malaysia Kekurangan 120.000 Tenaga Kerja

Adanya krisis tenaga kerja asing inilah yang kemudian membuat sektor pabrik dan perkebunan sawit merugi hingga 4 miliar dolar AS.

Mongabay
Perkebunan sawit di Sabah, Malaysia. Malaysia Hadapi Krisis Tenaga Kerja, Industri Sawit Hingga Semikonduktor Merugi Miliaran Dolar AS. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, KUALA LUMPUR – Industri kelapa sawit Malaysia mengalami kekurangan karyawan hingga mencapai 120.000 pekerja pada kuartal pertama di tahun 2022.

Disinyalir ini merupakan imbas dari pembekuan perekrutan pekerja asing pasca lonjakan kasus covid-19 pada Februali lalu.

Hal itu kemudian memicu terjadinya krisis pekerja migran di bidang industri Malaysia, khususnya pada sektor perkebunan kelapa sakit.

Baca juga: Heboh, Lima Pebulutangkis Asal Malaysia dan Thailand Keracunan Saat Gelaran Indonesia Masters 2022

Diketahui industri kelapa sawit Malaysia kini kekurangan hingga 120.000 tenaga kerja.

Adanya krisis tenaga kerja asing inilah yang kemudian membuat sektor pabrik dan perkebunan sawit merugi hingga 4 miliar dolar AS.

Melansir dari Chanel News Asia, industri kelapa sawit Malaysia menjadi salah satu pemain utama dalam rantai pasokan minyak sawit global.

Ketenaran produk Crude Palm Oil (CPO) bahkan telah membuat Malaysia berhasil meraup keuntungan sebanyak 1,4 miliar dolar AS pada kuartal II 2021.

Baca juga: Imigrasi Mataram Deportasi Warga Malaysia Overstay 3 Tahun di Lombok

Meski Industri kelapa sawit menyumbang pendapatan terbesar bagi Malaysia, namun lantaran pekerjaan di sektor ini dianggap sebagai pekerjaan yang sulit dan berbahaya, akhirnya membuat para warga lokal enggan untuk terjun dalam profesi ini.

Akibatnya, Malaysia terpaksa merekrut para imigran Indonesia dan Bangladesh untuk menjalankan industri minyak sawit.

Tetapi setelah AS menemukan pelanggaran kerja paksa pada imigran Indonesia dan Bangladesh, membuat kedua negara ini terpaksa menunda kedatangan warga negaranya untuk menjadi pekerja asing.

Hingga negosiasi atas hak dan perlindungan pekerja yang diajukan Indonesia dan Bangladesh disetujui Malaysia.

“Para penanam kelapa sawit berada pada titik puncak, Situasinya mengerikan dan sangat mirip harus memainkan permainan sepak bola melawan 11 orang tetapi hanya diizinkan untuk memasukkan tujuh orang,” kata Carl Bek-Nielsen, direktur eksekutif penanam kelapa sawit United Plantations.

Tak hanya industri perkebunan sawit saja yang merugi, para produsen semikonduktor asal negeri jiran juga mengalami tekanan, hingga mereka menolak berbagai pesanan ekspor akibat kekurangan tenaga kerja.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved