Berita Lombok Timur

Peserta Latsitarda XLII Paparkan Hasil Riset Sosial Penanganan Budidaya Lobster di Lombok Timur

Hasil riset sosial tersebut dipresentasikan Satuan Latihan tugas (Satlatgas) 2/Hiu di hadapan Sekda Kabupaten Lombok Timur H M Juaini Taofik

DOK. HUMAS PEMKAB LOMBOK TIMUR
Satuan Latihan tugas (Satlatgas) 2/Hiu peserta Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) ke-42 menyampaikan presentasi riset sosial strategi budidaya lobster berbasis laut sebagai alternatif pencaharian guna mengangkat perekonomian masyarkat pesisir pantai di Lombok Timur, Selasa (7/6/2022). 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Hasil riset peserta Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) ke-42 di Lombok Timur menyoroti strategi budidaya lobster berbasis laut sebagai alternatif pencaharian guna mengangkat perekonomian masyarkat pesisir pantai di Lombok Timur.

Hasil riset sosial tersebut dipresentasikan Satuan Latihan tugas (Satlatgas) 2/Hiu di hadapan Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Timur H M Juaini Taofik, Selasa (7/6/2022).

Dalam rapat tersebut, Sekda menyampaikan bahwa Teluk Jukung dan Teluk Ekas Lombok Timur di tahun 2022 ini dijadikan sebagai Pusat Pengembangan Lobster atau Lobster Estate melalui Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP).

Baca juga: Kodim 1615/Lotim Kirim Personel Ikuti Donor Darah Sambut Hari Bhayangkara 2022

"Dengan adanya riset sosial yang dilakukan oleh peserta Latsitardanus, dapat membantu pemerintah dalam merumuskan persoalan atau hal-hal yang perlu di benahi dan di sempurnakan dalam menjalankan program pengembangan lobster,"ujarnya.

Sementara itu, Paban PM dan PPM Akademi TNI Kolonel Kav Haerus Saleh mengatakan, tujuan dari Latsitardanus memang adalah untuk melatih para peserta menjadi calon pemimpin baik secara militer maupun di pemerintahan, sehingga nantinya sudah terbiasa dengan segala permasalahan saat memimpin.

Peserta Latsitardanus juga belajar untuk mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada di wilayah serta digunakan juga sebagai akreditasi di perguruan tinggi masing-masing.

Di tempat yang sama, riset sosial dari Satlatgas 2/Hiu mengungkap beberapa persoalan yang ditemukan di wilayah terkait budidaya lobster.

"Lombok Timur memiliki potensi yang sangat besar di bidang kelautan salah satunya adalah budidaya lobster, hanya saja ada beberapa persoalan yang menjadikan budidaya lobster belum optimal diantaranya, total wilayah yang di jadikan sebagai pusat pengembangan lobster baru 15 persen," papar Haerus.

Selain itu, persoalan yang ditemui juga masih adanya nelayan yang menggunakan cara yang tidak benar dalam melakukan penangkapan sehingga menggangu ekosistem laut dan menganggu budidaya lobster akibat pencemaran.

Terlebih lagi adanya mindset masyarakat yang menganggap budidaya lobster sulit dan mahal, masih adanya pembudidaya yang melakukan budidaya dengan cara yang kurang tepat, permasalahan ekonomi dan lain sebagainya.

Selanjutnya disampaikannya juga berbagai strategi yang dapat dilakukan guna mengatasi persoalan terkait budidaya lobster ini.

Baca juga: Migrasi Siaran TV dari Analog ke Digital, 74.527 KPM di Lombok Timur akan Dapat STB Gratis

"Ada beberapa strategi yang bisa digunakan, yakni menghilangkan persepsi masyarakat yang salah tentang budidaya lobster, melaksanakan kegiatan yang mencakup pelatihan, pemberian bantuan dan pengawasan yang berkelanjutan terhadap masyarakat dalam pembudidayaan lobster, serta meningkatkan pengawasan terhadap pengankapan ikan di laut," jelasnya.

Hal itu dilakukan sehingga nantinya diharapkan dapat mempertahankan kualitas laut karena lobster di pengaruhi oleh kondisi laut jika pencemaran laut tinggi akan memperbesar potensi penyakit terhadap lobster yang dapat menurunkan harga jual lobster.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved