NTB

TGB Zainul Majdi Terus Menginspirasi di Usia Emas

FB Buya Yamin Majdi
Tuan Guru Bajang (TGB) HM Zainul Majdi saat berada di Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Lalu Helmi

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Tuan Guru Bajang (TGB) HM Zainul Majdi berulang tahun pada 31 Mei, kemarin. Tepat di hari tersebut, Cucu Pahlawan Nasional TGKH Zainuddin Abdul Madjid itu menapaki usia emas, yakni 50 tahun. Setengah abad yang penuh keberkahan dan kebermanfaatan.

Pada hari tersebut, media sosial sesak akan ucapan selamat dan doa kepada Ketua Umum PB NWDI itu.

Salah satunya datang dari pengasuh Ponpes di Krui, Buya Yamin Majdi. Melalui akun media sosialnya, Buya Yamin Majdi menyampaikan kekagumannya kepada sosok Tuan Guru Bajang. Ia menceritakan sebuah kisah ketika Tuan Guru Bajang datang menghadiri pengajian ke Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung.

Baca juga: Pandangan Menyejukkan TGB Soal Keragaman, Beri Contoh Saat Nabi Izinkan Misa di Masjid Nabawi

Baca juga: TGB Tentang Pilpres 2024: Seperti Dejavu Pilpres 2019, Ajak Tokoh Bangsa Hentikan Polrisasi

Awalnya, kata Yamin, saat dirinya menceritakan rencana TGB akan ke Krui, beberapa orang tidak percaya. Alasan mereka, tidak mungkin TGB ke Krui melalui jalur darat, atau naik mobil, sangat jauh. 

Satu-satu cara mendatangkan TGB, kata orang-orang saat itu, melalui jalur udara, naik pesawat. Sedangkan pada waktu itu, jadwal penerbangan di Bandara Muhammad Taufiq Kiemas disetop.

“Namun keraguan mereka menguap, ketika TGB datang dari BSD City ke Krui naik mobil. Selama dalam perjalanan, TGB menikmati. Apalagi konvoi bersama puluhan alumni Al-Azhar dari Jabodetabek, Banten, Jawa Barat, dan Yogyakarta,” tulis Buya Yamin Majdi.

Bagi yang mengenal TGB, pasti tahu daya tahan fisik TGB luar biasa.

“Ini yang saya saksikan selama menemani beliau keliling di Jawa Barat dan Madura. Orang yang menemani kelelahan, tapi TGB tetap terlihat bugar,” beber Alumni Al-Azhar Mesir itu.

Apa yang Membuat TGB Kuat?

Buya Yamin Majdi memberi pengakuan bahwa yang membuat TGB demikian kuat adalah dakwah. Bagi TGB, dakwah adalah panggilan hidup.

TGB dan dakwah, tidak bisa dipisahkan. Tahun 1999-an, TGB pulang dari Universitas Al-Azhar Mesir. Sejak itulah, TGB berdakwah dari desa ke desa. Bukan hanya di NTB saja, melainkan dari Labuan Bajo di NTT hingga ke Singaraja di Bali.

Ia melanjutkan, meskipun TGB menjadi anggota DPR RI dan Gubernur NTB, TGB tidak meninggalkan dakwah itu. Apalagi tanpa jabatan, TGB semakin leluasa berdakwah. Ia keliling melaksanakan Safari Dakwah Nusantara.

“Beliau tidak membedakan dakwah di kota atau desa. Bahkan di pelosok pun, beliau kunjungi, termasuk ke Krui Pesisir Barat Lampung,” sambungnya.

Setengah Abad Usia Emas

TGB kini menapaki usia 50 tahun. Menurut Buya Yamin Majdi, dalam rentang setengah abad itu, hidup TGB penuh inspirasi. Ini bermula dari komitmen beliau terhadap Islam.

Secara konsisten, tulisan, TGB selalu serukan prinsip “Hadirkan agama sebagai inspirasi".

“Beliau sebagai ulama maupun umara, selalu berikhtiar menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Dari sinilah, TGB terus menginspirasi. Semoga TGB panjang umur, sehat selalu, tambah berkah, selamat di dunia dan akhirat,” tutupnya.

Selain itu, pengakuan terhadap sosok TGB juga dating dari Politisi PPP Nurdin Raggabarani. Melalui lama media sosialnya, pria asli Sumbawa ini menyampaikan beberapa kesannya kepada TGB.

"Konsistensi, keberanian dan keteladanan. Ketiga kata itulah yang saya pahami mewakili sosok figur seorang Dr. TGKH. Muhammad Zainul Majdi. Baik sebagai umara, maupun sebagai ulama," tulisnya melalui akun Facebook pribadinya.

Nurdin bercerita, saat TGB menjabat sebagai Gubernur NTB (2008-2018), dan dia sebagai Anggota DPRD, tidak jarang keduanya berbeda sudut pandang dalam menyikapi berbagai permasalahan.

"Namun beliau (TGB) tetap menganggap wacana-wacana yang berbeda, sebagai sisi yang memperkaya khazanah pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan," urainya.

Lebh lanjut, TGB dia pandang lebih banyak bekerja dalam senyap, tidak terlalu menampakkan kesibukan dan kehebohan wara-wiri. Bergerombol dengan kepala organisasi perangkat daerah (OPD) kesana kemari.

TGB pun tidak terlalu peduli pada eforia konten media sosial. Apalagi drama-drama tik-tokan. Namun hasil karyanya, akan menjadi legacy abadi.

"Seperti Bandara ZAM, KEK Mandalika, ITDC, SAMOTA, Islamic Center, Bypass BIZAM, Pembangun dan pengembangan Pelabuhan Lembar, Pelabuhan Badas, Pelabuhan Soekarno-Hatta Bima," bebernya.

Termasuk pula, Pelabuhan Telong Elong, Pelabuhan Bangsal, Pelabuhan Teluk Nara, Pelabuhan Tiga Gili, Pelabuhan Haji Lotim, Pelabuhan Lalar KSB, Pemeliharaan Jalan Raya Negara Trans Pulau Lombok dan Trans Pulau Sumbawa.

Jalan Raya Provinsi se-NTB, RS Rujukan Pulau Sumbawa Manambai Abdulkadir, RSUP NTB, Balai Latihan Kerja NTB, Rumah Kemasan, Perpanjangan landasan pacu bandara Sumbawa dan Bima.

Dari kacamata Nurdin, TGB pemimpin yang tidak pernah menyederhanakan masalah, apalagi meremehkan lawan bicara.

"Kita rindu pada pemimpin dengan moral etik tinggi. Yang dapat menjadi panutan, dan rujukan dalam mengurai berbagai benang kusut persoalan. Menjadi imam, tidak saja bagi istrinya, tapi juga bagi rakyat yang dipimpinnya," ujarnya.

"Pemimpin yang sudah selesai dengan urusan pribadi dan keluarganya, sehingga  tidak lagi direpotkan oleh syahwatnya sendiri, apalagi dibebani dan terbebani oleh urusan pribadi istri, anak, dan bisnis keluarga," sambungnya.

Di ujung tulisan, Nurdin memberikan harapan khusus di usia emas untuk terus memberi kontribusi bagi negeri.

"Selamat mensyukuri hari kelahiran emas TGB (31 Mei 1972). Semoga senantiasa dikaruniai nikmat sehat dan umur yang panjang penuh keberkahan. Barakallahu fii umrik. Teruslah berkhidmat, menjadi suluh dan penyejuk, ditengah gelap dan gersangnya kepemimpinan yang kehilangan ketauladanan. Aamiin YRA," tutupnya.

(*)