NTB

Cerita Rakyat Sumbawa: Aji Batu dari Desa Bekat

TRIBUNLOMBOK.COM/GALAN REZKI WASKITA
Budayawan dari Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, Hatta Jamal. 

Laporan Wartawan Tribunlombok.com, Galan Rezki Waskita

TRIBUNLOMBOK.COM, SUMBAWA - Peradaban masyarakat Sumbawa banyak meninggalkan kisah yang unik.

Satu di antara contohnya adalah kisah ulama dari Desa Bekat di wilayah Paroso, Kecamatan Moyo Hulu, Hilir, dan Utara.

Baca juga: Ini 4 Rekomendasi Tempat Mancing Gratis di Sumbawa, dari Labu Sawo hingga Bendungan 

Baca juga: Dikes Sumbawa Waspadai Penyebaran Hepatitis Akut, Akan Buat SE Pencegahan Penyakit

Desa Bekat telah hilang dan akibat banjir besar. Kini penduduk tinggal di Dusun Poto, Lengas, dan Malili.

Konon Aji Batu  alias Haji Batu yang bernama asli Gafar ini adalah penyebar agama Islam di daerah Paroso.

Kisah Aji Batu' (Gafar) dimulai ketika ia membajak sawah. Kala itu, kayu pembajak pada kerbau Gafar muda patah saat digunakan.

Ayahnya bernama H. Zulkifli datang hendak menemui Gafar. Sang ayah menggenggam parang. Gafar menduga sang ayah akan marah kepadanya.

Dia berlari sementara ayahnya mengejarnya dengan keheranan.

Akhirnya Gajar sampai di ujung tanjung. Masyarakat setempat saat ini mengenalnya dengan Tanjung Munangis.

Lompatlah ia di tanjung itu karena takut pada ayahnya. Ia kemudian berenang tanpa arah hingga ombak membawanya ke sebuah pulau.

Di pulau itu, Gafar mendapati sebatang pohon besar bernama Po' Jengi.

Ia naik ke atas pohon dan menemukan sarang burung raksasa yang disebut Pio Bri.

Gafar mengikat diri dengan kain bebat (serupa selendang) yang dibawanya. Ia persis berada di taji (tanduk di kaki) Pio Bri.

Saat malam menjelang subuh, Pio Bri terbang dan hendak turun di suatu wilayah yang tidak dikenali. Gafar melepaskan diri dari burung tersebut.

Lalu, ia mulai berjalan tanpa arah. Di perjalanan, Gafar dikejar hewan buas atau yang disebut Prabuaban.

Ia berlari menuju pohon besar dan memanjatnya. Di ujung pohon itu terdapat sebuah lubang. Masuklah Gafar ke dalamnya bersembunyi.

Sementara Prabuaban tetap mengejar Gafar. Gafar yang bersembunyi tak terlihat. Prabuaban persis berada di atas lubang itu.

Melalui celah lubang, Gafar menusuk Prabuaban dengan sebilah jambia atau keris yang dibawanya.

Prabuaban pun terjatuh. Melihat itu, Gafar segera mengulitinya. Kulit Prabuaban digunakan sebagai pakaian penutup tubuh untuk melindungi diri dari hewan buas lain.

Gafar kembali berjalan tanpa arah. Akhirnya ia menjumpai sungai. a hendak mendirikan shalat sunat. Saat berwudhu, hal mengejutkan pun terjadi.

Jari kelingking kiri Gafar ditempeli batu yang membuat jari itu menjadi kaku.

Singkat cerita, Gafar kembali berjalan tanpa arah. Akhirnya ia mendengar suara suling.

Dia terus mencari siapa yang meniup seruling itu. Akhirnya ia berjumpa seorang kakek tua pada sebuah gubuk yang sedang menghibur diri dan ternaknya.

Gafar dan kakek itupun berbicara dengan bahasa isyarat karena sama-sama saling tidak memahami bahasa. Akhirnya Gafar menginap di tempat orang tua itu.

Keesokan paginya, Gafar dibawa ke sebuah kota untuk diserahkan pada pemerintah setempat.

Ternyata, tempat itu Mekkah Al Mukarromah.

Bertahun-tahun di Mekkah, Gajar dipercayai untuk menjaga pintu utama Masjidil Haram (Babussalam).

Selama menjaga pintu, ia bertemu banyak orang. Ia kemudian bertemu seseorang bernama H. Karim atau dalam panggilan Sumbawa, H. Kari.

Diketahui H. Karim adalah orang Sumbawa yang berasal dari Krongkeng, yang saat ini masuk dalam wilayah Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa.

H. Karim pulang ke Sumbawa. Melalui H. Karim, Gafar menyampaikan salam kepada orang tuanya di Bekat dan mengabarkan keadaan serta keberadaannya.

Beberapa waktu berselang, Gafar kembali ke Sumbawa dan menjumpai orang tuanya.

Mereka saling bercerita atas apa yang terjadi.

Namun, masyarakat yang kala itu telah melihat Gafar sebagai seorang haji kemudian memberikan panggilan H. Batu.

Panggilan H. Batu diberikan mengingat hari kelingking kiri Gafar yang membatu.

Konon dikisahkan, Gafar menjelma sebagai tokoh agama dan tokoh masyarakat berpengaruh dalam penyebaran Islam di Paroso.

Di akhir hidupnya gafar meninggalkan sebuah wasiat.

Talat ku ko untir ana, pang anok Po' Nan (kuburlah saya di bawah mangga Po' itu) menunjuk pada bukit di tengah sawah Orong Rea'.

Sampai saat ini, bukit itu disebut bukit Ponan, karena berasal dari kata H. Batu yakni Po' nan (Po' itu).

Bukit Ponan menjelma sebagai tempat sedekah sawah bagi masyarakat Poto, Lengas, dan Malili.

Kisah ini diceritakan oleh budayawan Desa Poto, Hatta Jamal  kepada Tribunlombok.com, Sabtu (21/5/2022).

(*)