Berita Lombok Tengah

Menengok Maleman, Tradisi Warga Sade Lombok Tengah Sambut Malam Lailatul Qadar

Lampu tersebut terbuat dari bahan pohon randu dicampur dengan minyak pohon jarak atau pohon jamplong yang dibakar usai salat magrib

Penulis: Sinto | Editor: Wahyu Widiyantoro
TRIBUNLOMBOK.COM/SINTO
Suasana Maleman di Sade Lombok Tengah Sabtu, (30/4/2022) dalam menyambut malam Lailatul Qadar. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Sinto

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Maleman merupakan salah satu tradisi masyarakat Sasak di Desa Sade, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah yang sudah dilakukan secara turun-temurun.

Acara meleman ini dilakukan pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadan.

Antara lain pada malam 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan.

Baca juga: H-1 Lebaran, Kendaraan Pemudik Tujuan Pulau Sumbawa Masih Padati Pelabuhan Kayangan

Seorang warga yang menjalankan tradisi ini, Inaq Almi menyebutkan tradisi maleman ini untuk menyambut Lailatul Qadar.

Maknanya, menyambut malam yang lebih baik daripada seribu bulan ini dengan cahaya dalam suasana penuh suka cita.

Terkandung harapan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

"Malam ini tanggal 29 sehingga memungkinkan untuk turunnya malam lailatul qadar itu pada malam ganjil," jelasnya kepada TribunLombok.com, Sabtu (30/4/2022)

Berdasarkan pantauan TribunLombok.com, warga memasang lampu penerang khusus di area rumah mereka.

lampu tersebut terbuat dari bahan pohon randu dicampur dengan minyak pohon jarak atau pohon jamplong yang dibakar usai salat magrib.

Halaman
12
Sumber: Tribun Lombok
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved