Berita Lombok Timur

Lombok Timur Klaim Belum Temukan Indikasi Penularan Penyakit Hewan Lewat Daging Selama Ramadhan

Lombok Timur mengkhawatirkan penularan antraks untuk kategori penyakit menular yang bersifat zoonosis yakni penularan dari hewan ke manusia

TRIBUNLOMBOK.COM/AHMAD WAWAN SUGANDIKA
Pedagang daging di pasar tradisional Pringgabaya, Lombok Timur sedang melayani pembeli. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika

TRIBUNLOMBOK.COM,LOMBOK TIMUR - Tingginya tingkat konsumsi daging masyarakat selama bulan Ramadhan sampai menjelang Idul Fitri berpotensi menimbulkan indikasi penularan penyakit dari hewan ke manusia.

Namun, sejauh ini belum menemukan indikasi penularan penyakit yang disebabkan oleh hewan.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lombok Timur Hultatang mengatakan, kondisi tersebut tercermin dari laporan bulanan yang disampaikan oleh masing-masing Puskeswan.

Baca juga: Mengenal Kue Aling-aling Khas Lombok, Lengkap dengan Daftar Bahan dan Cara Membuatnya

"Setiap bulannya Puskeswan melaporkan perkembangan populasi dan jenis penyakit hewan tersebut sehingga kami cepat mendeteksinya," katanya Minggu (1/5/2022).

Hultatang menjelaskan, Puskeswan ini merupakan unit terdepan dalam pelayanan kesehatan hewan guna mencegah penularan, mendeteksi, dan merespon berbagai ancaman penyakit hewan.

di samping peran serta kesadaran masyarakat akan kesehatan hewan ternak.

"Kesadaran setiap masyarakat sangat diperlukan, sehingga masyarakat sedini mungkin melaporkan ke setiap UPT apabila ditemukan keanehan pada hewan," urainya.

Hultatang menyebut higienitas dan sanitasi daging di Lombok Timur sejauh ini dimulai dari proses produksi berasal yakni Rumah Potong Hewan (RPH).

Sementara pada pasar tradisional standar kelayakan higienis belum terlalu memadai.

Hultatang berpendapat, seharusnya pedagang daging lebih terlokalisasi serta memiliki penyimpanan yang khusus.

Lombok Timur mengkhawatirkan penularan antraks untuk kategori penyakit menular yang bersifat zoonosis yakni penularan dari hewan ke manusia.

Kemungkinan terburuk dari penyakit itu, kata Hultatang, adalah meninggal dunia.

Sehingga dirinya meminta masyarakat lebih jeli dalam memilih serta mengelola daging terlebih pada tingkat konsumsi yang tinggi seperti bulan Ramadhan.

"Karena hal tersebut dapat menekan resiko penularan penyakit,"bebernya.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved