Berita Lombok Barat

Dile Jojor Mulai Terangi Dusun di Lombok, Tradisi Masyarakat Pasang Lampu Obor Sambut Lebaran

Dile Jojor kerap dinyalakan di depan rumah warga pada 7 hari jelang malam lebaran

TRIBUNLOMBOK.COM/ROBBYAN ABEL RAMDHON
Warga Dusun Nyur Baye Gawah, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, memasang Dile Jojor di pekarangan rumah, Selasa (26/4/2022). 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robbyan Abel Ramdhon

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT – Masyarakat Dusun Nyur Baye Gawah, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, mulai menerangi rumah mereka dengan Dile Jojor, pada Selasa (26/4/2022).

Dile Jojor adalah lampu tradisional Lombok yang berfungsi seperti obor dan kerap dibakar jelang lebaran.

Dile dalam bahasa Sasak berarti lampu, sementara jojor melambangkan ukurannya yang kecil dan mudah terpantik api.

Baca juga: Sampaikan Pesan Warga Palestina, Ulama Keliling Indonesia Gelar Safari Dakwah hingga ke Lombok

Dile Jojor tersebuat dari biji buah jamplung yang dikupas dan dikeringkan hingga menjadi coklat.

Buah jamplung yang sudah kering, kemudian disangrai sampai berwarna hitam gosong, sebelum ditumbuk dan dicampur dengan kapas secara merata menjadi adonan.

Adonan Dile Jojor yang sudah padat kemudian dikepalkan ke potongan bambu berbentuk tongkat seukuran lidi.

Panjang tangkai Dile Jojor umumnya 15 sentimeter hingga 30 sentimeter.

Dile Jojor kerap dinyalakan pada 7 hari jelang malam lebaran.

Hal itu dipercaya juga sebagai penyambutan atas malam Lailatul Qadar.

Warga Nyur Baye Gawah Dian Purnama Sari percaya, Dile Jojor dapat menerangi malam Lailatul Qadar hingga membawa berkah bagi masyarakat yang beribadah puasa selama Ramadan.

Dari cerita Dian yang telah melakukan tradisi itu sejak masih kecil, Dile Jojor selalu ditancapkan mengelilingi rumah agar penghuni rumah dekat dengan cahaya Lailatul Qadar.

“Sekarang usia saya 24 tahun, dan tidak ada yang berubah dari tradisi ini sejak dulu. Bentuk dan rupa Dile Jojor yang dibuat juga masih sama,” kata Dian.

Alumni Ponpes Nurul Haramain Narmada ini berharap, tradisi Dile Jojor tidak lekang oleh perkembangan zaman modern yang sarat percepatan.

“Sekarang semua-semua cepat berlalu. Medsos (media sosial) membuat kita harus membuat semua menjadi baru setiap hari. Semoga aja ini (tradisi Dile Jojor) enggak,” harapnya. (*)

Sumber: Tribun Lombok
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved