NTB
Pupus di Pariwisata, Masyarakat Lombok Barat Terbang Jadi PMI
Penulis: Robbyan Abel Ramdhon | Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
Laporan Wartawan Tribunlombok.com, Robbyan Abel Ramdhon
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT – Menyimpan beragam destinasi wisata pantai, membuat Kabupaten Lombok Barat menjadi satu di antara daerah dengan potensi ekonomi yang bagus.
Hotel-hotel, jasa transportasi, perdagangan hingga kuliner adalah sederet kecil dari banyak peluang usaha yang bisa digarap masyarakat dengan memanfaatkan lokasi kawasan wisata.
Menurut laporan dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB, mengenai proyeksi kebutuhan tenaga kerja tahun 2021-2025 menurut lapangan usaha dan jabatan, diketahui proporsi kebutuhan tenaga kerja di Kabupaten Lombok Barat sebesar 10,24 persen.
Sedangkan proyeksi kebutuhan tenaga kerja menurut lapangan usaha, adalah perdagangan besar dan eceran; reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor, menjadi sektor yang paling besar memberikan kesempatan kerja.
Baca juga: Dukung Kebangkitan Pariwisata, BKTM Desa Kuta Polsek Mandalika Gelar Vaksinasi Booster di Hotel
Di Lombok Barat sendiri, kebutuhannya mencapai 15.139 ribu orang tenaga kerja untuk sektor tersebut. Sektor lainnya menyusul industri pengolahan (14.183), dan penyedia akomodasi dan makan minum (13.993).
Jika penyedia akomodasi dan makan minum masuk dalam kategori kebutuhan di industri pariwisata, artinya sektor ini masih kalah prioritas dibandingkan dua sektor di atasnya.
Rozi, Sekertaris Dinas Tenaga Kerja Lombok Barat, mengatakan, alih-alih bekerja di industri pariwisata, masyarakat lebih banyak memilih bekerja sebagai PMI di luar negeri (Pekerja Migran Indonesia).
“Kenapa kok (PMI) diminati sangat tinggi oleh masyarakat kita khususnya di Lombok Barat, karena gajinya yang sangat menjanjikan. Itu bahkan sampai Rp20 juta-Rp25 juta per bulan (gajinya), itu yang ke Jepang dan Jerman,” ungkapnya.
Baca juga: Paket Wisata Bagi Tamu MXGP Samota, Berenang Bareng Hiu hingga Air Terjun Mata Jitu
Ia menambahkan, industri pariwisata pun akan semakin merosot seiring dengan dampak pandemi covid-19 yang menimpa Lombok Barat.
“Pariwisata ini semakin turun drastis, bahkan banyak pegawai hotel yang dirumahkan, itu sejak 2018 hingga 2020 mulai banyak pengurangan (tenaga kerja),” jelasnya.
Menurutnya, kurangnya penerimaan industri pariwisata terhadap pekerja lokal juga merupakan faktor yang mendorong masyarakat menjadi PMI.
Ia kemudian membandingkannya dengan angka UMP (Upah Minimum Provinsi) di NTB, yang menurutnya masih terbilang kecil dibandingkan dengan upah yang didapatkan bila menjadi PMI.
“Itu bagus, namun dalam tanda kutip, asalkan PMI ini legal. Karena banyak masyarakat yang ingin cepat dan instan, akhirnya banyak (PMI) yang illegal,” ungkapnya.
Menurut data yang diterima Tribunlombok.com dari BP2MI NTB, Lombok Barat menyumbang 2979 PMI pada tahun 2021 dari total 26996 PMI NTB.
Sementara itu, untuk menanggulangi permasalahan SDM, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Barat menjelaskan, pihaknya telah mendorong keunggulan peserta didik yang nantinya dapat menjawab kebutuhan industri, terutama pariwisata.
H Nasrun Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Barat, mengungkapkan karakter pendidikan di Lombok barat lebih tonjolkan kemampuan olahraga dan kebudayaan.
Hal itu disampaikannya untuk menanggapi potensi peluang kerja yang terbuka selama sepuluh tahun ke depan, seiring kontrak Dorna Sports dengan Indonesia untuk menyelenggarakan event-event olahraga.
“Khusus untuk olahraga kami kerjasama dengan Dispora (Dinas Pemuda dan Olahraga NTB) membina bersama-sama, kalau kebudayaan, kita kaya kok di sekolah-sekolah, kapan saja bisa kita tampilkan. Mulai dari gendang beleq, qasidah, zikir zaman, semua itu kita bina sebagai ekstrakurikuler di sekolah,” tuturnya.
Ia mengatakan, saat ini pihaknya sedang melengkapi sarana dan prasarana untuk menunjang kebutuhan kegiatan-kegiatan kebudayaan.
Kadis Nasrun menjelaskan, ke depannya, olahraga dan kebudayaan akan menjadi dua bidang yang berkontribusi dalam penyediaan tenaga kerja yang profesional, terutama di wilayah pariwisata maupun keatletan.
“Kami juga sudah punya program pembelajaran di luar kampus (PDS), kami bekerja sama Politeknik Negeri Bali, kita sudah punya jurusan pariwisata di sana khusus untuk mengisi hotel-hotel. Dari tahun ke tahun kita sudah mampu mengeluarkan tenaga yang terampil dan langsung dipekerjakan oleh perusahaan dan hotel-hotel,” terangnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/TENAGA-KERJA.jpg)