NTB

PMI Bima Kekurangan Stok Darah, Alat Transfusi Malah Ditelantarkan

Dok.Istimewa
Penyerahan UTD oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima ke PMI Kota Bima, tahun 2021. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Atina

TRIBUNLOMBOK.COM, KOTA BIMA - Palang Merah Indonesia (PMI) Bima setiap hari menerima permintaan puluhan kantong darah dari lima hingga tujuh pasien.

Sayangnya, permintaan itu tidak bisa dipenuhi karena tidak adanya stok darah.

"Entah sampai kapan terus saja begini. Kami setiap hari menerima keluarga pasien, meminta stok darah. Tapi kami tidak memilikinya," ungkap Sekretaris PMI Kota Bima, Rusdin kepada TribunLombok.com, Rabu, 23 Februari 2022.

Rusdin mengatakan, seharusnya kondisi tersebut tidak terjadi lagi sejak tahun lalu.

Pasalnya, Pemerintah Kota Bima sudah membeli Unit Transfusi Darah (UTD) dan dilakukan serah terima secara simbolis ke PMI.

Namun hal itu percuma karena pengadaan alat tersebut tidak disertai penunjukan tenaga ahli yang bisa mengoperasikan alat tersebut.

Baca juga: Peduli Warga Terdampak Pandemi, Pegawai Lapas Mataram Donor Darah hingga Bagi-bagi Sembako

Baca juga: Belum Vaksin Covid-19, Warga Miskin di Kota Bima Tidak Bisa Terima BPNT Kemensos

Tidak hanya itu, gedung yang bisa digunakan sebagai tempat unit transfusi darah itu juga belum ada.

"Selama ini disebut saja ada, ada. Tapi secara faktual, tertulis, SK tidak ada," tegas Rusdin.

Ia juga mengaku, tidak tahu pasti apa alasan Dinas Kesehatan (Dikes) Bima tidak kunjung memfungsikan UTD itu.

"Mudah-mudahan alat yang diserahkan bisa bertelur, sehingga bisa tambah banyak di lokasi Labkesda tempat menyimpan alat sekarang," sentilnya.

Sementara itu, Kadis Kesehatan Kota Bima Azhari yang dikonfirmasi via ponsel mengaku, sudah berkoordinasi dengan Ketua PMI Kota Bima.

Ia menjelaskan, pihaknya sudah memberikan tiga alternatif tempat yang bisa digunakan untuk penyimpanan UTD.

"Ini sudah dikoordinasikan dengan Ketua PMI. Sekarang tinggal menunggu PMI saja yang meminta," pungkasnya.

(*)