Breaking News:

Penghina Palestina di NTB Minta Maaf, Kasus Diselesaikan dengan ‘Restorative Justice’

Kepolisian telah melakukan komunikasi dengan tokoh agama, masyarakat, dan pihak lainnya untuk menyelesaikan masalah tersebut.

TribunLombok.com/Sirtupillaili
PENGHINA PALESTINA: HL alias Ucok (tengah) hanya bisa menunduk saat keterangan pers, di markas Polda NTB, Selasa (18/5/2021). 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Sirtupillaili

TRIBUNLOMBOK.COM, JAKARTA - Polisi menyatakan kasus dugaan penghinaan terhadap Negara Palestina lewat media sosial (medsos), oleh petugas kebersihan berinisial HL alias Ucok (23) diselesaikan melalui pendekatan restorative justice atau keadilan restoratif.

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan dalam rilisnya menjelaskan, jalur itu ditempuh karena tidak terpenuhinya unsur pidana Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Selain itu, yang bersangkutan juga telah menyampaikan maaf.

DITAHAN: HL alias Ucok hanya menunduk di markas Polda NTB, Selasa (18/5/2021). Dia ditangkap setelah video TikTok-nya yang menghina Palestina dilaporkan warga ke polisi.
DITAHAN: HL alias Ucok hanya menunduk di markas Polda NTB, Selasa (18/5/2021). Dia ditangkap setelah video TikTok-nya yang menghina Palestina dilaporkan warga ke polisi. (TribunLombok.com/Sirtupillaili)

"Karena tidak memenuhi unsur pidana UU ITE. HL juga telah menyampaikan permohonan maaf," kata Ramadhan, dalam jumpa pers di Gedung Humas Polri, Jakarta Selatan, Kamis (20/5/2021).

Ramadhan menjelaskan, dalam perkara di NTB, polisi melakukan penangkapan dalam rangka mengamankan yang bersangkutan.

Baca juga: Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri Galang Dana untuk Palestina

Baca juga: Nasib Pembuat Video Hina Palestina, Dimarahi Keluarga dan Kelanjutan Pekerjaan Tidak Jelas

Baca juga: Gubernur NTB Kecam Serangan Israel terhadap Palestina, Dukung Aksi Solidaritas Warga

Mengingat, postingannya bisa memecah belah bangsa dan membuat kegaduhan.

Menurut Ramadhan, kepolisian telah melakukan komunikasi dengan tokoh agama, masyarakat, dan pihak lainnya untuk menyelesaikan masalah tersebut.

”Hari ini penyidik kembali melaksanakan gelar perkara untuk melakukan restorative justice yang dilakukan penyidik Ditkrimsus Polda NTB," ujar Ramadhan.

Semetara itu, Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto menjelaskan, pendekatan itu ditempuh karena penyidik mempertimbangkan tersangka sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Selain itu, pelaku tidak memahami permasalahan yang terjadi antara Palestina dan Israel, sehingga iseng-iseng membuat konten tersebut.

Berita terkini di NTB lainnya.

(*)

Penulis: Sirtupillaili
Editor: Maria Sorenada Garudea Prabawati
Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved