Breaking News:

Kasus 4 Ibu Ditahan di Lombok, Aktivis Perempuan Minta Warga Lingkar Pabrik Diperhatikan

Setelah penahanan empat ibu-ibu di Lombok Tengah ditangguhkan Pengadilan Negeri (PN) Praya, aktivis perempuan angkat suara

Dok. LARD NTB
Direktur Eksekutif LARD NTB Mahmudah Kalla bicara mengenai kasus penahanan kasus ibu-ibu dan pabrik UD Mawar Putra 

Selama itu masyarakat lelah mencium bau menyengat dari aktivitas pabrik tembakau UD Mawar Putra.

Terkait izin perusahaan, mereka akan coba menanyakan ke dinas terkait.

Mulai dari Analisis Dampak Lingkungan (Amdal), Izin Mendirikan Bangunan (IMB), termasuk Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL) perusahaan.

”Juga harus kita kawal jangan-jangan persoalan kontrak kerja dan turunanya tidak ada diatur,” katanya.

Dalam kasus tersebut, kata Kalla, banyak yang perlu diadvokasi.

Sehingga apa yang menjadi akar masalah, pemicu konflik warga dengan perusahaan bisa dituntaskan.  

”Ibu-ibu rumah tangga melakukan itu karena merasa keluarga dan anaknya terancam,” katanya.

Akhirnya mereka melakukan tindakan protes sampai berujung pelemparan gudang perusahaan.

Baca juga: Terkait Penahanan 4 Ibu-ibu di Lombok, Polri: Sudah Dimediasi 9 Kali Tapi Gagal

Sementara itu, H Ahmad Suardi, pemilik UD Mawar Putra saat dikonfirmasi membantah aktivitas usahanya berdampak buruk bagi lingkungan.

Dia mengaku heran, kenapa protes terhadap usahanya baru mulai muncul tahun 2020.

Halaman
123
Penulis: Sirtupillaili
Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved