Breaking News:

Tergiur Untung Besar, Oknum PNS Dinas Kesehatan Lombok Barat Jualan Ekstasi  

Tergiur untung besar, oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Kesehatan Lombok Barat berinisial INA diam-diam jadi pengedar narkotika jenis ekstasi

Penulis: Sirtupillaili | Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
Dok. Polresta Mataram
UNGKAP BISNIS EKSTASI: Kapolresta Mataram Kombes Pol Heri Wahyudi SIK (tengah) menunjukkan barang bukti bisnis ekstasi, dalam keterangan pers, di markas Polresta Mataram, Kamis (7/1/2021). 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Sirtupillaili

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT – Tergiur untung besar, oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Kesehatan Lombok Barat berinisial INA (46 tahun), diam-diam jadi pengedar narkotika jenis ekstasi.  

Laki-laki yang sehari-hari bertugas di Puskesmas Sesela ini ditangkap Satresnarkoba Polresta Mataram, Rabu malam (6/1/2021), sekitar pukul 23.00 Wita.

Pegawai asal Kelurahan Bajur, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat ini ditangkap bersama dua orang lainnya.

”Tiga orang ini diduga penjual dan pengedar narkotika jenis ekstasi, salah satunya oknum PNS di Dikes Lombok Barat,’’ ungkap Kapolresta Mataram Kombes Pol Heri Wahyudi SIK, dalam keterangan pers, di markas Polresta Mataram, Kamis (7/1/2021).

Baca juga: Raup Rp 123 Ribu, Pencuri Kotak Amal Anak Yatim di Mataram Nyaris Dihakimi Warga

Ia menjelaskan, penangkapan tiga pelaku dipimpin langsung Kasat Narkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson.

Mereka ditangkap dengan cara undercover buy, di mana anggota polisi menyamar sebagai pembeli.

INA ditangkap beserta dua orang rekannya yakni seorang mahasiswi berinisial DS (20 tahun), warga Desa Kelebuh, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah.

Kemudian IMS (34 tahun), warga Karang Pendem, Kelurahan Cilinaya, Kota Mataram.

Penangkapan ketiganya dilakukan di Jalan Umar Madi, Lingkungan Karang Pendem, Kelurahan Cilinaya.

Baca juga: Oknum PNS Pemprov NTB Cetak Uang Palsu, Transfer Melalui Kios BRI Link

”Ini berawal dari informasi adanya informasi jual beli ekstasi,’’ bebernya.

Setelah dilakukan penggeledahan badan, petugas menemukan 10 butir narkotika jenis ekstasi warna kuning berlogo mahkota.

Juga uang tunai Rp 13,4 juta yang diduga hasil transaksi narkotika.

Barang bukti lainnya 4 buah kartu ATM, satu unit motor dan sejumlah handphone.

”Ekstasi yang kami dapatkan ada 10 butir, ketiganya langsung kami amankan untuk diproses lebih lanjut,’’ jelas Kombes Pol Heri Wahyudi.

Dari hasil interogasi singkat, terungkap IMS berperan sebagai kurir yang mengantarkan ekstasi kepada pemesan.

”IMS itu yang bukan PNS, ternyata dia kurirnya,’’ ungkapnya.

Sementara INA dalam kasus ini sebagai penjual ekstasi.

Baca juga: Kritis Setelah Kecelakaan Maut, 1 Lagi Anggota TRC BPBD Lombok Timur Meninggal di Rumah Sakit

Diduga ekstasi yang didapatkan petugas merupakan sisa stok tahun baru.

Ekstasi itu sudah masuk sebelum tahun baru dan ada kemungkinan sebagian sudah dijual untuk dipakai pesta tahun baru.

”Karena ekstasi ini kan dinikmati sambil mendengarkan suara musik yang keras,’’ tutur Heri.

Tergiur

UNGKAP BISNIS EKSTASI: Kapolresta Mataram Kombes Pol Heri Wahyudi SIK (tengah) menunjukkan barang bukti bisnis ekstasi, dalam keterangan pers, di markas Polresta Mataram, Kamis (7/1/2021).
UNGKAP BISNIS EKSTASI: Kapolresta Mataram Kombes Pol Heri Wahyudi SIK (tengah) menunjukkan barang bukti bisnis ekstasi, dalam keterangan pers, di markas Polresta Mataram, Kamis (7/1/2021). (Dok. Polresta Mataram)

Sebagai PNS, INA diduga tergiur dengan keuntungan menjual ekstasi.

”Satu butir ekstasi dijual Rp 600 ribu. Tergiur dia dengan keuntungannya,” beber kapolresta.

Pihaknya masih mendalami berapa lama INA terlibat dalam dibisnis narkotika.

Baca juga: Sita 4,2 Kilogram Sabu, Polresta Mataram Ungkap Pencucian Uang Hasil Bisnis Narkoba 

INA berusaha menutupi bisnis haramnya dengan cara sangat rapi.

Dia tidak sembarangan menerima pembeli.

Satu pembeli maksimal boleh membeli 10 butir.

”Kita juga harus melakukan undercover buy,” jelasnya.

Dengan perbuatannya, pelaku terancam dijerat pasal 114 ayat (1), pasal 132 ayat (1), pasal 112 ayat 1 dan pasal 127 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

”Dia terancam hukuman di atas 4 tahun penjara,” tandas Heri.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved