Breaking News:

TERBARU Belajar Tatap Muka Mulai Januari, Pemprov NTB Bentuk Satgas Covid-19 Pondok Pesantren

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) membentuk Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 di lingkungan pondok pesaantren untuk kurangi sebaran covid-19

Dok. Diskominfotik NTB
ANTISIPASI COVID-19: Rapat persiapan proses belajar tatap muka pondok pesantren, di ruang rapat Sekda Provinsi NTB, Jumat (27/11/2020).  

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Sirtupillaili

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Untuk mengurangi penyebaran Covid-19, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) membentuk Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 di lingkungan pondok pesantren (Ponpes).

Satgas ini bertugas mengkoordinir dan mengawasi para santri dalam menjalankan protokol kesehatan.

Mereka sekaligus mengawasi setiap orang yang datang dari luar masuk ponpes.

"Kita mengantisipasi timbulnya klaster penyebaran Covid-19 di lingkungan ponpes," kata Asisten I Setda Provinsi NTB Hj Baiq Eva Nurcahyaningsih, M.Si., dalam rapat persiapan kegiatan belajar mengajar Ponpes pada masa pandemi Covid-19, di ruang rapat Sekda Provinsi NTB, Jumat (27/11/2020).

Baca juga: Gubernur Dorong Sekolah di NTB Berinovasi di Tengah Pandemi Covid-19

Baca juga: Kemendikbud Beri Kewenangan ke Pemda Buka Sekolah Mulai Januari 2021

"Covid-19 tidak memilih tempat, usia dan jenis kelamin  sehingga perlu satgas yang memantau berbagai aktivitas anak-anak kita," katanya.

Tonton Juga :

Keputusan bersama empat menteri, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudyaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 612 Tahun 2020 menjadi alasan penegakkan protokol kesehatan di sekolah maupun pondok pesantren.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr Nurhandini Eka Dewi, dalam rapat itu menjelaskan, keputusan memulai belajar tatap muka Januari 2021 harus disiapkan dengan baik.

"Saat ini pondok pesantren menjadi perhatian kita bersama, karena kelaster pondok pesantren dimulai dari kepulangan para santri di Pulau Jawa," tuturnya

Satgas Covid-19 Ponpes akan mengontrol protokol kesehatan di lingkungan ponpes.

Mereka bisa berkoordinasi dengan satgas desa, kecamatan, dan kabupaten apabila terjadi sesuatu di ponpes.

Sementara itu, Ketua Forum Kerja Sama Pondok Pesantren (FKSPP) TGH Mahally Fikri mengungkapkan, virus corona paling rentan terjadi pada orang yang sering berinteraksi.

Sementara ponpes memiliki ciri khas seringkali berkumpul.

"Kami menyambut baik apa yang menjadi rencana pemprov," katanya.

Ia mendukung upaya pemerintah berjuang menjaga keselamatan jiwa calon pemimpin dari pesantren.

"Pembentukan satgas ini sangat bagus," kata Mahally, yang juga Ketua Komisi V DPRD Provinsi NTB ini.

Baca juga: Curhat Korban Kebakaran Baturotok ke Gubernur NTB, Banyak Anak Putus Sekolah karena Jalan Rusak

Baca juga: Tidak Ada Siswa Terpapar Covid-19 di Sekolah, Dikbud NTB Perluas Kelas Tatap Muka  

Hingga 26 November 2020, total kasus terkonfirmasi Covid-19 di NTB 4.688 orang.

Sebanyak 583 orang masih dirawat, 3.856 orang sembuh, dan 249 orang meninggal dunia.

Sebanyak 211 orang suspect Covid-19 masih isolasi, 1.857 orang kontak erat masih karantina, dan 4.511 orang pelaku perjalanan masih karantina.

(*)

Penulis: Sirtupillaili
Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved